3.700 Perwira Israel Dikarantina Akibat Covid-19

Un combattant du Hezbollah braquant sa lance-roquette Kornet en direction d'Israël/Challenge

Pejuang Hezbollah mengarahkan peluncur roket Kornet ke arah Israel / Challenge

Juru bicara militer Israel merespon pandemi Covid-19 pada hari Selasa 17 Maret yang bagaimanapun “tidak terlalu buruk bagi Israel” karena kegiatan “itu akan secara signifikan memperlambat” lawan memusuhi Israel di Timur Tengah. Bagi mereka yang tahu kecenderungan Israel suka menggertak, kata-kata ini sangat khas, hanya untuk menutupi sesuatu yang serius pada komunikasi terbaru dari tentara Israel. Israel berpura-pura untuk menggagalkan “operasi gabungan tentara Hizbullah-Suriah” pada 2 Maret, sebuah operasi yang ditujukan untuk menggoncang datara tinggi Golan dan bertujuan untuk merusak “kelancaran pemilihan suara legislatif Israel”.

Siaran pers militer Zionis mengklaim bahwa “operasi sabotase” telah berlangsung, tidak jauh dari desa strategis Hader, sebuah desa yang pada tahun 2017, Al-Nusra mengancam akan mendudukinya sebelum diusir oleh tentara Suriah dan sekutu-sekutu Perlawanan ketika pesawat tanpa awak Israel dan helikopter menargetkan “kendaraan militer yang membawa komandan tinggi Hizbullah”. Berita tersebut jelas penuh dengan pujian untuk “unit intelijen tentara Israel yang” telah mendeteksi gerakan mencurigakan di daerah ini untuk beberapa waktu dan yang karenanya bertindak untuk menetralisir “operasi komando Hizbullah Suriah.

Tapi apa di sebalik operasi media Israel yang, yang berdasarkan fakta, hanya melakukan intervensi dua minggu setelah serangan Israel yang menargetkan komando Angkatan Darat Hizbullah-Suriah? Israel takut karena secara militer pihaknya kehilangan kendali atas situasi.

L'armée israélienne mobilisée

Israel mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka membatalkan semua latihan militer untuk unit cadangan yang dijadwalkan bulan depan untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Empat hari yang lalu menurut pers Israel, sekitar 3.700 perwira tentara Zionis – di luar tentara – “dikarantina karena takut akan epidemi virus korona,” kata komandan Zionis yang memanggil lusinan tentara kembali ke pangkalan militer mereka. Yediot Aharonot yang melaporkan pada 14 Maret informasi ini bahkan terkejut terutama sehari sebelumnya (13 Maret) Israel telah mengumumkan keinginan untuk menjalankan pemeriksaan kesehatan militer , “Pada saat-saat seperti itu apa pun dapat terjadi: tembakan rudal, operasi komando dan bahkan lebih buruk,” kata seorang pejabat Zionis yang dikutip oleh Ynet.

Dalam edisi 17 Maret, DEBKAfile, sebuah situs yang dekat dengan lingkaran intelijen tentara Zionis, mengklaim bahwa sekitar 20.000 tentara Israel berisiko musnah akibat epidemi, dengan prospek runtuhnya sistem kesehatan Israel hanya dalam 15 hari. Juga juru bicara tentara Israel, Hidai Zilberman berbohong ketika dia senang memiliki virus corona sebagai sekutu de facto. Avigdor Lieberman, tokoh partai Zionis Beitenou menuduh Selasa 17 Maret Netanyahu “memimpin langsung Israel ke kehanccuran” dengan “sektor kesehatan dalam krisis penuh, dan kekurangan dasar” ke titik bahwa “Mossad dan Shin Beth dikerahkan “untuk menyelamatkannya.

Di saat ancaman coronavirus di tubuh militer inilah pers melaporkan berita buruk lainnya kepada Israel, adanya “jaringan penyelundupan senjata dan amunisi dari pangkalan militer Israel untuk Tepi Barat. ” Shin Beth bahkan mengumumkan penangkapan 21 orang (tentara Israel) yang diduga mengarahkan “jaringan senjata selundupan” ini di mana “amunisi dan bagian-bagian senjata api telah dicuri dari pangkalan militer dan dijual pasar gelap. “

Informasi yang dilaporkan oleh Asharq al-Awsat menambahkan: “Polisi Israel menemukan bahwa llingkaran penyelundup itu termasuk tentara, warga sipil Israel dan warga Palestina yang berasal dari komunitas Badui di gurun Negev. Tentara Israel yang berada kelompok gelap itu mencuri amunisi dan senjata dari pangkalan militer mereka, kemudian dengan mudah memindahkan properti yang dicuri dan menyerahkannya kepada rekan-rekan konspirator mereka, yang kemudian akan menjual peluru dan komponen senjata ke Palestina di Tepi Barat. Penyelidikan menyebutkan beberapa tentara mencuri amunisi dalam jumlah besar dari militer dan bahkan mencuri suku cadang senjata Israel, kemudian mengganti bagian asli senjata dengan replika yang dibuat di Tepi Barat. ” Pada tingkat ini, jaringan bersenjata anti-Israel di desa-desa Druze di Golan yang diduduki hanya satu sisi dari goncangan yang dialami Israel, sisi lain cenderung memicu ledakan Israel dari dalam.

You may also like...