Cendekiawan Besar Indonesia Dawam Raharjo Tutup Usia

Hasil gambar untuk dawam rahardjo kompas

Cendekiawan Muslim yang juga tokoh PP Muhammadiyah, Dawam Rahardjo, tutup usia pada Rabu (30/5/2018) malam sekitar pukul 21.55 WIB.  Istimewa

 

Cendekiawan muslim sekaligus tokoh nasional, Dawam Rahardjo, tutup usai, Rabu (30/5) malam. Dawam meninggal pada pukul 21.55 WIB di RSI Jakarta pada usia 77 tahun.

Pria yang lahir di Solo, Jawa Tengah pada 20 April 1942 tersebut wafat di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta sekitar pukul 21.55 WIB. Pihak keluarga menyebut, Dawam berjuang melawan penyakit diabetes yang dideritanya sejak setahun lalu. “Bapak telah lama memiliki penyakit diabetes, tetapi pada delapan bulan terakhir kondisinya menurun,” ujar Jauhar Rahardjo, putera kedua Dawam, ditemui di rumah duka, Kompleks Billy Moon, Jakarta, Kamis ).

Di pengujung usia, Dawam masih menjabat sebagai anggota Dewan Kehormatan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia periode 2015-2020. Dia juga pernah memimpin ICMI sebagai ketua pada periode 1995-2000. Ketua ICMI Jimly Asshiddiqie pun mengaku kehilangan sosok intelektual andal. “Kita kehilangan satu lagi tokoh panutan di dunia intelektual dan aktivis yang andal untuk kemajuan bangsa,” ucap Jimly, pada Kamis (31/5/2018). Selama ini, menurut Jimly, Dawam dikenal sebagai pemikir sosial dan ekonomi yang selalu mengikuti perkembangan terbaru. Dawam juga ikut berjasa dalam memberikan sumbangsih ide pendirian ICMI.

Sementara itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menilai Dawam Rahardjo sebagai sosok yang memiliki gagasan besar hingga saat ini. “Pak Dawam adalah seorang intelektual dan aktivis Muslim yang progresif,” ucap Abdul Mu’ti. Selain mendirikan ICMI, menurut Mu’ti, Dawam Rahardjo juga berjasa dalam membidani kelahiran Baitul Mal Wat Tamwil (BMT), pemberdayaan pesantren, dan program lain.

Sebagai aktivis Muhammadiyah, Dawam Rahardjo pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah dan Ketua PP Muhammadiyah. Selain itu, Dawam juga dikenal sebagai sosok moderat yang konsisten membela minoritas dari diskriminasi, salah satunya adalah jemaah Ahmadiyah. Karena itu, Jemaah Ahmadiyah Indonesia mengaku kehilangan Dawam Rahardjo. “Kita benar-benar kehilangan seorang putra bangsa yang selalu menjunjung tinggi sikap toleransi dalam perbedaan,” kata Sekretaris Bidang Hubungan Luar JAI, Kandali Achmad Lubis.

Kandali menilai semasa hidupnya sosok Dawam Rahardjo sangat memerhatikan komunitas Ahmadiyah yang selama ini kerap kali mendapat diskriminasi. Dawam tidak gentar ketika sebagian umat Islam di Indonesia mencela karena pembelaannya terhadap kaum minoritas di Indonesia. Sebab, menurut Kandali, Dawam meyakini setiap manusia memiliki kebebasan, terutama dalam memeluk maupun menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Dawam Rahardjo, kata Kandali, dengan keberaniannya menentang arus bahkan pernah mengorbankan dirinya saat dikeluarkan dari pengurusan sebuah organisasi penting (Muhammadiyah) lantaran membela Ahmadiyah. “Beliau adalah guru bangsa sebagaimana sahabat beliau, Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Beliau seorang Muhammadiyah tulen yang selalu membela kaum minoritas termasuk Ahmadiyah,” kata Kandali. Atas pembelaannya terhadap jemaah Ahmadiyah, Dawam Rahardjo pernah mendapatkan penghargaan Yap Thiam Hien pada 2013.

You may also like...