89 Orang Tewas Dalam Serangan ‘Pasukan’ Rohingya

Résultat de recherche d'images pour "Birmanie : au moins 89 morts dans une attaque menée par des rebelles musulmans rohingya"

Sisa serangan Jumat kemarin (AFP)

Sekitar 150 orang Rohingya menyerang 20 pos perbatasan di daerah Arakan, perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh.

Ini merupakan perbenturan keras antara polisi Myanmar dengan kelompok bersenjata muslim Rohingya, sebagai suatu eskalasi penindasan terhadap warga Rohingya Myanmar.Serangan terakhir, dilakukan oleh 150 orang Rohingya, Jumat 25 Agustus 2017, sekitar 20 pos polisi di perbatasan Arakan (kini disebut Rakhine oleh rezim Myanmar). Serangan itu, yang tidak diberitakan, menyebabkan 89 warga Myanmar tewas, 10 di antaranya adalah anggota kepolisian.

Komandan militer Myanmar menggarisbawahi bahwa perang berlanjut hari Jumat di daerah perbatasan Bangladesh, khususnya di pos-pos polisi desa Kyar Gaung Taung dan Nat Chaung. Sejumlah senjata berhasil dirampas oleh penyerang, kata pihak kepolisian Myanmar.

Di daerah itu, terletak di barat Myanmar, ditandai oleh teganga yang kritis antara muslim dan budhis. Di sana tinggal puluhan ribu warga Rohingya, minoritas muslim yang menjadi korban diskriminasi di Myanmar, karena tidak berhak berobat ke rumah sakit, belajar ke sekolah, dan ikut bersaing di bursa kerja. Situasi tampaknya menyudutkan 120.000 warga muslim yang masih bertahan hidup di kamp Arakan, mereka tidak diizinkan keluar kamp.

Résultat de recherche d'images pour "Birmanie : au moins 89 morts dans une attaque menée par des rebelles musulmans rohingya"

AFP

Rohingya selalu diperlakukan sebagai imigran Bangladesh yang oleh penguasa Myanmar disebut bengali  karena kata Rohingya tabu di Myanmar. Di negeri mayoritas budhis itu para biksu menolak muslim karena dianggap sebagai ancaman.

Risiko radikalisasi

Serangan terakhir yang mematikan itu di pos-pos polisi sudah terjadi pada Oktober 2016. Perbenturan kekerasan ini diikuti dengan mengungsinya ribuan orang Rohingya ke Bangladesh. Karena setelah serangan, pasukan Myanmar membalasnya dengan kekerasan seperti perkosaan masal, penyiksaan, pembunuhan dan pembantaian.

Pemerintah Myanmar pada hari Jumat mengungkapkan bahwa penyerangan oleh Rohingya itu menjadi laporan komisi PBB yang dipimpin oleh Kofi Annan, mantan Sekjen PBB. Komisi ini meminta agar Myanmar memberikan hak-hak Rohingya, jika tidak nanti aksi radikalisasi akan semakin gencar.

Serangan yang dilakukan oleh kelompok Rohingya tidak begitu jelas dari kelompok mana. Ada dugaan mereka ini berasak dari sempalan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), yang menguasai wilayah pegunungan di zona May Yu, utara Arakan.

You may also like...