AirAsia Akan Menambah Daftar Blacklist Maskapai Penerbangan 2015?

(KY/02/01/2015). Pemakaman korban AirAsia QZ 8501 dilakukan Kamis kemarin, sementara cuaca buruk masih menghalangi tim Basarnas untuk menemukan korban-korban lain dari 162 penumpang pesawat komersial milik maskapai Malaysia itu.

Sekurang-kurangnya sudah 9 jenazah dievakuasi sejak operasi pencarianĀ  menghilangnya pesawat Airbus A320-220. Meski cuaca tetap menjadi kendala, tetapi semangat para pejuang kemanusiaan itu seperti tidak gentar menghdapi keganasan alam.

” Terhitung mulai besok hingga 4 Januari, dengan kekuatan yang ada, berdasarkan perhitungan dan teknik yang kami milikli, kami akan terus berjuang, dan saya berharap kami akan mencapai hasil maksimal,”tegas Bambang Sulistyo dari Basarnas.

Pemakaman Hayati Lufiah Hamin, 40 tahun, dilakukan kemarin siangĀ  setelah diserahkan tim Basarnas. Setelah disolatkan di rumah keluarga, jenazah Hayati dimakamkan secara Islam dan dihadiri ratusan tetangga.

air asia

AirAsia harus membayar mahal untuk membangun kepercayaan sebagai maskapai yang low cost. (Foto: Agoes Rudianto/Anadolu Agency/AFP)

Logika penerbangan low cost

Meski pencarian kotak hitam, yang warnanya oranye itu, dan pencarian sisa korban menjadi prioritas, tetapi di kalangan bisnis penerbangan komersial reputasi maskapai low cost di Asia ini mulai dipertanyakan. Armada pesawat AirAsia yang dicta merah putih itu memang berhasil memincut hati kaum muda kelas menengah Asia. Perusahaan milik Tony Fernandes ini lebnih berpenampilan sebagai perusahaan layanan katimbang sebagai perusahaan penerbangan klasik. Dan kelak AirAsia memang menjadi rival terberat raksasa Malaysia Airlines.

Tetapi, sekarang ini orang mulai ragu.”Kami suka AirAsia. Layanan dan pesawatnya bagus. Tapi, kenapa bisa begini ya?”sergah Hannah, 30 tahun, penduduk Jakarta. Dua kecelakaan Airbus AirAsia, satu di bandara Kalipo Filipina, pesawat tergelincir keluar dari landasan lantaran cuaca buruk, dan kini jatuhnya QZ8501 kini mulai jadi ruang bertanya: apakah penerbangan low cost seperti model AirAsia yang melejit spektakuler pada satu dekade ini dan menguasai 60% penerbangan Asia—memang masih bisa dipertahankan?

Daftar blacklist Komisi Eropa kian bertambah

Pada semester pertama 2014, hanya 4 maskapai low cost dari 17 maskapai yang menikmati sukses di Asia Tenggara. Catatan majalah Airle Leader menunjukkan faktor over kapasitas maskapai di kawasan ini terbilang irasional. Kegagalan Tiger Airways, misal, tentu membuat perusahaan induknya, Singapore Airlines, harus mengalami persoalan keuangan. Tetapi, pertumbuhan maskapai di Asia Tenggara lumayan tidak hati-hati, seperti di Birma yang dalam waktu dekat ini memiliki 9 pesawat! Ekspansi maskapai ini memang berhubungan dengan pertumbuhan perekonomian di Asia Tenggara, dan di saat bersamaan maskapai-maskapai yang tumbuh itu tidak dibarengi dengan jaminan keamanan, sehingga beberapa di antaranya masuk dalam daftar hitam Komisi Eropa.

Masa depan penerbangan di kawasan ini memang bergantung pada restrukturasi dan konsolidasi para pemain utama, begitu catat Airline Leader. Tren niscaya akan dinikmati oleh maskapai Indonesia Lion Air dan…AirAsia, yang tahun ini akan menerbangkan 50 juta penumpang. Tentu saja dengan syarat mereka harus terbebas dari krisis, yakni memberi jaminan keamanan baru bagi penumpang. Lantaran persoalan yang kerap ditabuhkan adalah pilot-pilot yang kurang berpengalaman, usia mesin pesawat, dan ini jelas opsi yang mahal bagi sejumlah maskapai klasik.

Sejak awal drama, Tony Fernandes, pemilik AirAsia, mencoba membangun transparansi lewat pelbagai media dan hadir di tempat kejadian. Tony mencoba metode yang tidak dilakukan rivalnya, MAS, yang drama raibnya MH370 membuiat maskapai itu dipermalukan. Bola yang dimainkan Tony: memadamkan kebakaran sekaligus meyakinkan pertumbuhan maskapainya pada satu dekade mendatang. Sebuah ujian beratharus dihadapinya mengingat di tahun-tahun ini dan mendatang Airbus, satu-satunya fabrikan yang memasok pesawat maskapainya, harus mengiirmkan sekitar 300 pesawat ke AirAsia.

Setelah sepuluh tahun menikmati pertumbuhan yang luar biasa, akal sehat, di mata maskapai-maskapai klasik, low cost harus dihadapi Asia Tenggara. (KY)

You may also like...

Leave a Reply