Atasi Kerusuhan Protes Kenaikan BBM, Prancis Ragu Untuk Berlakukan Hukum Darurat

Des heurts ont éclaté entre des "Gilets jaunes" et les forces de l'ordre, sur les Champs-Elysées. / © Aude Blacher - France 3 Paris - Île-de-France

Bentrokan meletus antara “Rompi Kuning” dan polisi di Champs-Elysees. / © Aude Blacher – Prancis 3 Paris – Île-de-France

Mungkin ini sejarah baru demokrasi Prancis. Pemerintah Emmanuel Macron menaikkan BBM dan biaya pendidikan, menyulut warga awam marah. Mereka bersatu dalam identitas ‘Rompi Kuning’, rompi yang biasa dipakai pekerja jalanan. Dan mereka ini, awalnya, adalah warga yang tinggal di pinggiran kota. Mereka marah karena untuk pergi bekerja kini mereka harus menambah ongkos mobil pribadi. Sementara pajak bakal mencekik mereka.

Twitter

Mulanya pemerintah menganggap sebelah mata gerakan Rompi Kuning ini. Karena demonstrasi adalah tradisi warga Prancis menolak kebijakan yang memberatkan. Tetapi, akumulasi demonstrasi Rompi Kuning yang bergerak di luar partai dan serikat buruh, mulai membuat Emmanuel Macron grogi. Lantaran rompi kuning bertebar di seantero Prancis dan mengancam stabilitas nasional. Lantaran aksi mereka memblokir jalan, menghalangi warga pergi belanja kebutuhan sehari-hari dan menghalangi warga pergi ke pompa bensin.

Twitter

Sabtu kemarin, 1/12, aksi Rompi Kuning dilabrak oleh polisi anti-huruhara. Kerusuhan pun pecah. Sejumlah toko dibakar, terutama yang disangka milik asing, mobil-mobil dibakar. Korban berjatuhan.

Pemerintah Prancis pun bimbang akan memutuskan hukum darurat. Tetapi, sementara kebimbangan itu terus meruyak, aksi Rompi Kuning semakin mendesak di setiap sudut yang dijaga polisi.

Sejumlah insiden pecah di jalan-jalan memuju istana kepresidenan Prancis Champs-Élysées, sebegitu demonstran “Rompi Kuning” datang sekitar jam 9. Mereka terus melakukan aksi kekerasan sepanjang hari sampai menjelang malam. Pada pukul 19:30, Sabtu 1 Desember, 263 orang ditangkap dan 95 terluka.

Mobil yang dibakar oleh “Rompi Kuning ” di Paris. / © Aude Blacher – Prancis 3 Paris – Île-de-France

Insiden pertama dan singkat terjadi pada hari Sabtu, 1 Desember, di Paris jalan menuju istana kepresidenan Prancis Champs-Élysées. “Rompi kuning” berkumpul pada hari ketiga aksi nasional mereka.

Pada siang hari, bentrokan semakin meningkat dan berlangsung hingga sore hari. Pada 19:30, ada 263 penangkapan dan 95 orang terluka, termasuk 14 polisi, begitu diwartakan dari Prefektur Polisi di Paris. Ada 5.500 pengunjuk rasa pada pukul 1 siang di seluruh ibu kota, menurut perdana menteri.

Tak lama setelah tengah hari, lapangan Place de l’Etoile dievakuasi. Setelah tersebar dari alun-alun Arc de Triomphe, yang masih terbuka untuk lalu lintas sebelum jam 9 pagi, para demonstran, beberapa berkerudung dan bertopeng, menghamburkan diri kembali ke jalan yang berdekatan.1.500 pengganggu di luar perimeter datang untuk menyerang.

Di salah satu lokasi aksi mereka, di Avenue Mac-Mahon, tong-tong sampah dijungkirkanbalikkan dan dibakar, memicu api kecil sampah di tengah jalan di pagi hari.

Bentrokan baru di penghujung sore
Setelah mengevakuasi lapangan Place de l’Etoile pada siang hari dan terjadi bentrokan baru pada sore hari. Sebuah rumah pribadi milik perusahaan Hughes Hubbard & Reed LLP, rue de Presbourg (16 Paris), sebagian dibakar. Toko itu kosong dan pengunjuk rasa menyangka itu milik warga Qatar, menurut informasi.

Beberapa mobil dibakar di ibukota, termasuk di rue de Rivoli, juga sebuah mobil polisi di jalan Danielle Casanova (Paris 2e) dibakar. Sebuah senjata dicuri dari kendaraan polisi.

Boulevard Haussmann, tidak jauh dari department store, orang bertopeng mengambil alih petugas pemadam kebakaran yang datang untuk memadamkan tong sampah dan kendaraan, merobek-robek sepeda swalayan dan mendirikan barikade.

Dekat Museum Louvre dan Jardin des Tuileries, udaranya tak tertahankan, dipenuhi gas air mata dan asap. Para pengunjuk rasa dengan cepat memasuki Palais-Brongniart, bekas markas besar Bursa Efek.

Rompi kuning menjebol gerbang Jardin des Tuileries di Paris, dekat rue de Rivoli. / © AFP

Place de l’Opera, mobil pemadam kebakaran bergerak menuju tempat kebakaran di bawah tatapan mata khawatir para wisatawan.

Bentrokan antara demonstran dan penegak hukum berlangsung sekitar jam 11 pagi hari Sabtu ini, 1 Desember. Yang terakhir datang dengan meriam air dan gas air mata.

Un manifestant s'apprête à lancer un projectile sur les forces de l'ordre sur les Champs-Elysées. / © ALAIN JOCARD / AFP

Seorang demonstran bersiap melemparkan proyektil yang dipegangnya. AFP

Protes demonstran

La place de l’Etoile dievakuasi, para demonstran didorong kembali di jalan-jalan yang berdekatan. Tenang dipulihkan di alun-alun itu antara jam 12 dan 13. “Rompi kuning” menyalakan api, mobil dibakar, dan jalan-jalan dibersihkan sebagian.

Sementara beberapa “Rompi Kuning” melindungi makam prajurit tidak dikenal, yang lain melakukan vandalisme, Arc de Triomphe dicoreti dengan tulisan “Rompi kuning bakal menang”.

Rompi Kuning membuat grafiti di Arc de Triomphe di Paris. / © Geoffrey VAN DER HASSELT / AFP

Para pengunjuk rasa yang damai berusaha mencapai Champs-Elysees sejak tengah hari, tetapi disumbat total oleh polisi. Mereka menyingkir ke dermaga quai des Tuileries (Paris 1) mereka memblokir secara spontan selama 20 menit hingga 15:30.

Karena takut insiden, para pemilik gedung melindungi jendela kaca dengan papan-papan lebar. Sementara sejumlah perabotan dibersihkan untuk mencegahnya digunakan sebagai proyektil.
Polisi menurunkan 5.000 personil dari kekuatan brigade mobil Ibukota pasukan bergerak di ibukota. Di beberapa tempat terjadi demo menentang kenaikan biaya pendidikan untuk mahasiswa asing.

Demonstrasi terakhir di Champs-Elysees, Sabtu 24 November lalu, telah menyebabkan kerusakan diperkirakan “lebih dari satu juta euro” menurut walikota di Paris.

You may also like...