Bashar Al Assad Solat Idul Adha di Perbatasan Libanon

Le président syrien Bachar el-Assad fend la foule à Qara, dans le Qalamoun syrien, le 1er septembre 2017. Photo tirée du compte Twitter de la présidence syrienne.

Presiden Suriah Basyar Al Assad, Jumat kemarin, menjalankan solat Idul Adha di provinsi yang jauh dari Damaskus, begitu media resmi setempat memberitakan.

Sejak awal perang Suriah, 6 tahun lalu, kepala negara Suriah ini tidak banyak melakukan kegiatan di luar ibukota. Tahun ini, meyakini pasukannya menang di beberapa front melawan pemberontak dan ISIS, dia berani muncul di daerah-daerah seperti Hama (Suriah tengah) atau di barat Suriah yang kini kerap dikunjunginya.

Presiden Assad solat Idul Adha di kota Qara, di Qolamun barat, tidak jauh dari perbatasan Libanon,” twit presiden Suriah di aku Twitternya dan fotonya memperlihatkan dia sedang dikerubungi massa di sebuah masjid. Gambar ini bersifat simbolik yang ingin mengatakan bahwa daerah yang tadinya dikuasai ISIS itu berhasil direbut kembali oleh pasukannya yang dibantu milisi Hisbullah pekan sebelumnya. Televisi pemerintah mmperlihatkan senyum lebar Basyar Al Assad di tengah-tengah rakyatnya di dalam sebuah masjid.

Eropa: Assad bukan solusi

Meski Basyar Al Assad berhasil meredam dan mengurangi kegiatan perang di negaranya, tetapi Eropa tidak melihatnya sebagai solusi perdamaian. Prancis, misalnya, yang pernah menjajah negeri itu, tetap berkeras Basyar Al Assad harus menyingkir dari kekuasaan di Suriah. Barat tetap memperlakukan Basyar Al Assad sebagai pembunuh rakyatnya sendiri yang menurut Barat korban perang Suriah mencapai 330.000 jiwa tewas.

Tetapi, Emmanuel Macron, presiden Prancis, juga tidak menemukan siapa pengganti sah Basyar Al Assad jika harus disingkirkan dari Timur Tengah. Justru perang Suriah memberikan ‘PR’ bagi Eropa lantaran para pengungsi Suriah menyerbu Eropa, dan itu menjadi masalah tersendiri.

Kata lain, Basyar Al Assad adalah slilit bagi mata barat. Dengan mengobarkan revolusi Arab, barat memang berhasil menjatuhkan banyak pemimpin Arab yang selalu menjadi ancaman Israel. Namun, untuk menyingkirkan Basyar Al Assad tidak semudah menyingkirkan Muammar Kadhafi, Husni Mubarak, Saddam Hussein, dan seterusnya. Dalam hal ini Suriah diuntungkan karena kepentingan minyaknya dalam ‘perlindungan’ Rusia dan Iran, ditambah lagi dukungan milisi Hisbullah Libanon.

You may also like...