Bis Tololetlolet! Bis Tololetlolet! Oom Telolet! Oom Telolet!!

Catatan Juwanto Prakoso*

Bis, Bis, tololetlolet! Bis, tololetlolet!

Anak-anak yang berdiri (yang duduk juga banyak) di pinggir jalan antar-lintas-Sumatera, dekade 70an, memang sengaja menunggu bus-bus milik PT Antar Lintas Sumatera (ALS), dengan armada Chevrolet C-50 (sebelum kelak digantikan dengan armada Mercedez Benz); dan ketika bus-bus jangkung dengan hidung mancung itu lewat, dengan segera anak-anak itu berseru,”Bis, bis, tololetlolet!”  Maka sang supir pun langsung membunyikan klaksonnya yang bak orkestrasi dengan durasi 15-30 detik. Anak-anak itu pun bersorak kegirangan. Tetapi, manakala dari jauh terlihat truk merah yang sama jangkungnya menyusul, tetapi hidungnya lebih pesek dan di hidung itu pula tertera merk fabrikan Prague, anak-anak itu berhamburan lari pulang, sembari berseru,”Praha! Praha datang!” Nah, truk yang dihindari biasanya punggungnya sarat muatan karet mentah-basah, dan ketika truk itu berlalu, bau busuk tercecer selama beberapa menit di sepanjang jalan.

Foto Muslikh Madiyant.

Repro

Sebut saja telolet itu adalah  épistémè, jika kita memang merasa gagah menggunakan istilah temuan Faucult itu. Telolet bolehlah, di awal-awal tulisan ini, disadari sebagai suatu pengetahuan—jika kita tetap setia pada Faucault. Anggap saja sekarang bahwa épistémè  telolet adalah upaya memahami transformasi suatu pengetahuan dari dalam yang dengan serta-merta menjadi ranah umum pengetahuan, ranah vertikal yang membangun suatu masyarakat, suatu budaya, suatu peradaban pada suatu masa tertentu. Telolet, ambil gampangnya, adalah épistémè suatu zaman yang mengantarkan kita pada suatu cara berpikir, berbicara, merepresentasikan dunia, yang mampu merembes ke seluruh budaya.

Telolet Faucault

Bagi anak-anak Indonesia itu (karena yang nongkrong menunggu bus antarlintas Sumatera tadi beragam etnisnya, Batak, Sunda, Jawa, Banten, Semende, Lampung, Minang, dst),  telolet yang biasa mereka nantikan menjelang sore, adalah tranformasi geografis yang tidak pernah mereka peroleh di kelas. Bagaimana mesin jangkung yang perkasa beroda empat itu, dari Banda Aceh, atau Padang, atau Medan menembus hutan belantara Sumatera (sebelum digusur hutan sawit) yang berat, berbahaya, dan misterius—membelah pulau Sumatera demi mengantarkan manusia atau barang ke pulau Jawa hingga pulau Lombok. Kalau mau memintas pemikiran, dan masih setia kepada Faucault, tololetlolet atau telolet bisa diancangkan sebagai rentetan épistémè kolonial, kemerdekaan, dan modern. Tetapi, penjelasan yang ingin kita miliki mungkin rada mengkhianati Faucault, karena data filsafat umum Indonesia, sejarahnya, dan epistemologinya benar-benar samar dan susah diyakini.

Ancangan struktural telolet, ini masih Faucault juga sebenarnya, mengandai pada suatu sistem konseptual yang memproduksi pengetahuan-pengetahuan suatu zaman. Klakson orkestrasi bus-bus penghubung antarpulau Indonesia itu (baca: tolelot) adalah pilihan produk bahasa manusia membentuk dirinya sebagai bagian dari alam rimba. Catatan pada waktu itu yang sempat terekam, ancaman lalu lintas bus-bus antarpulau itu justru bukan lalu lintas itu sendiri, tetapi rimba dengan kaidah-kaidah alamnya. [Satwa-satwa liar bisa saja mengganggu perjalanan bus-bus itu di jalan raya transsumatra (bikinan Belanda yang terlanjur hancur lebur). Kawanan kerbau liar, gajah, harimau bisa saja berleha-leha di tengah jalan berlumpur—dan bisa saja mengancam penumpangnya. Maka para arsitektur suara dari bengkel-bengkel, setelah membeli peralatan yang dibutuhkan dari Singapura, dan jadilah klakson rakitan yang bak orkes–yang menurut cerita para penumpang, bunyi klakson tolelot di tengah hutan bisa mencegah kawanan satwa liar itu menyeberangi jalan.]

Telolet Deleuze

Jika mungkin dipahami bahwa yang menentukan telolet adalah satu susunan pokok, satu struktur yang mengatur pengetahuan individu, yakni kode-kode yang mendasari budaya tempat kita ikut bertelolet, menetapkan kita mengatur telolet sebagai bahasa, menyusun skema-skema persepsinya, dan hierakhi praktik-praktiknya. Kode-kode ini mengatur isi empiris yang memungkinnya (kode-kode itu) iktu mengakses budaya berorkestrasi bunyi itu. Struktur ini membentuk susunan dasar yang kerapnya tidak teraba oleh individu karena dia membentuk kendala jaringan tan-kasat mata. Akibatnya memang tidak semua ahli mengenali strukrur dan kaidahnya lantaran memang tan-sadar dan tersirat.

Pada konteks itu semestinya Deleuze sepaham dengan Faucault: susunan tertinggi sebuah struktur terletak pada simboliknya. Dan susunan simbolik terangkai dalam sistemnya yang tidak kalah rumit. Bahwa ketika menemukan telolet adalah interelasi, maka tidak satu pun di dunia struktur manusia bisa bebas dari bahasa. Bahkan benda mati pun berbahasa, bahasa benda mati. Jika telolet berada di tingkat terdalam simbolik, tetapi dia tereduksi oleh susunan imajiner dan susunan riil. Maka jika telolet, sebut saja begitu, adalah apolitik (produk budaya suatu zaman) dengan semestinya ancangan Deleuze justru tidak melahirkan jawaban, melainkan jawaban: jika manusia Indonesia adalah politik suatu apolitik, bagaimanakah politik di Indonesia menjadi apolitik? Atau, masih dengan Deleuze, jika telolet adalah suatu struktur, bagaimanakah manusia Indonesia menjadi strukturalis?

Sapaan telolet Jakobson

Membicarakan telolet sebagai objek filsafat, akhirnya hanya mengangan-angan saja. Ruang tak terbatas hiperteks ini menjadi sangat terbatas oleh waktu. Tetapi, telolet sebagai objek filsafat sekali pun, bukan omong kosong. Dia mestinya bahasa yang muncul sebagai produk suatu budaya pada zaman tertentu untuk menemukan jalan epistemnya, dekade 60an-70an sapaan yang dipakai adalah kebendaan: bis! bis!;  dan dekade kontemporer menjadi lebih fungsional: Oom! Oom! Maka pun Roman Jakobson bisa dipinjam untuk sekedar menutup sekapur sirih telolet, lewat 7 fungsi bahasa komunikasinya itu: telolet adalah sapaan. Tidak terlalu penting, tetapi sangat dibutuhkan kehadirannya dalam sehari-hari oleh manusia: fatik.

*Pekerja lepas media lulusan FIB-UI

You may also like...