Bono Mencabut Dukungannya Untuk Aung San Suu Kyi

Bono, ancien défenseur d'Aung San Suu Kyi, appelle à sa démission

Setelah mendukungnya, Bono memanggil Presiden Burma untuk mengundurkan diri (arsip gambar tahun 2012) @ DANIEL SANNUM LAUTEN / AFP

Bono, pemimpin band rock Irlandia U2 yang membela Aung San Suu Kyi saat berada di bawah tahanan rumah oleh junta Birma, sekarang menyerukan pengunduran dirinya karena krisis Rohingya.

Bono merasa “sakit hati”. Penyanyi yang telah menempatkan Aung San Suu Kyi yang ditemakannya dalam lagu Walk On, dia meminta penggemarnya untuk mengenakan masker bagi peraih hadiah Nobel Perdamaian itu dalam sebuah konsernya, dia mengatakan bahwa dirinya  “merasa jijik” dengan nasib warga Rohingya, sebuah minoritas Muslim yang dianiaya di Myanmar dan lebih dari 655.000 warga tertindas itu melarikan diri ke Bangladesh sejak akhir Agustus.

“Saya benar-benar merasa sakit, karena saya tidak percaya semua fakta yang diungkapkan, tapi ada pembersihan etnis,” Bono mengingatkan pada terbitan terbaru majalah Rolling Stone. “Ini benar-benar terjadi dan dia harus mengundurkan diri karena dia tahu ini terjadi,” tambahnya.

Tidak ada reaksi dari mantan peraih Hadiah Nobel. Aung San Suu Kyi berkuasa pada 2016 dan telah menjadi pemimpin de facto pemerintahan sipil Myanmar. Dulu dipuja secara internasional, dia sekarang dikritik karena kurang berempati atas nasib Rohingya. Namun, dia sebenarnya harus berhadapan dengan tentara yang tetap sangat kuat, meski pembubaran diri junta di tahun 2011, dan opini publik sebagian besar bersifat xenofobia dan memusuhi umat Islam.

Sebuah himbauan untuk pengunduran diri. “Seharusnya, paling tidak, dia lebih mengekspresikan dirinya, dan jika orang tidak mendengarkan, maka dia harus mengundurkan diri,” Bono bersikeras dalam wawancara dengan pendiri majalah Jann Wenner. “Mungkin dia tidak ingin negara itu jatuh ke tangan militer, tapi memang begitu, kalau Anda mempercayai gambarnya,” kata Bono

Tentara Myanmar sedang melakukan operasi militer yang digambarkan oleh PBB sebagai “pembersihan etnis” di Negara Bagian Rakhin (barat), yang memaksa warga Rohingya tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia ke dalam eksodus. Dokter Lintas Batas (Medecins Sans Frontier) memperkirakan bahwa setidaknya 6.700 orang Rohingya terbunuh antara akhir Agustus dan akhir September di Negara Bagian Rakhin.

You may also like...