CITA Indonesia, Gaya Anak Muda Memperbaiki Mutu Pembelajaran Perguruan Tinggi

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan dalam ruangan

Kelas terbuka CITA 19 September 2018 di Fullmoon Cafe. (Teddy/Bara)

Koranyogya.com–Ini memang khas gaya anak muda. Menyadari bahwa Indonesia tidak lagi memiliki politik pendidikan yang jelas, dan ini dalih yang menyebutkan bahwa pendidikan tinggi tanah air sudah lumayan tertinggal dengan negeri-negeri jiran, maka mengeluh adalah sikap negatif laiknya mengutuk kegelapan karena kita gagal memiliki penerangan. Anak muda itu mendirikan CITA Indonesia.

Center For Interdisciplinary Academic (CITA) Indonesia, yang hadir secara resmi pada tanggal 9 September 2018. CITA adalah web platform pendidikan kuliah pilihan hati yang mempertemukan pengajar dan pembelajar pada situasi menarik dan kondusif,” ucap Alfi sebagai pendiri  CITA Indonesia.

Alfi adalah anak muda itu. Berlatar disiplin filsafat alias induk semua ilmu, dia menemukan ‘kegagalan’ pendidikan tinggi kini yang amat disemangati oleh linearitas, menyebabkan mahasiswa serasa tinggal di bilik-bilik sempit. Walhasil, ketika mahasiswa merampungkan studinya, dia jadi gagap menghadapi dunia nyata.

Yang mudah terbaca justru setelah UU Pendidikan menuntut pengajar perguruan tinggi harus berjenjang strata dua. Di sinilah muncul permasalahan serius yang dibidik Alfi. Di jenjang pasca sarjana, mahasiswa hanya mendalami metodologi keilmuan, sementara metode pengajaran dalam praktik pedagogis terabaikan. Bagi pengajar yang menggenapi persyaratan administrasi, harus berijazah S2, masalah pembelajaran tidak menjadi terlalu serius. Karena semasa mengajar selama beberapa tahun dengan mengantongi ijazah S1, mereka sudah menemukan ‘ruang metodis’ dalam pembelajaran berbasis pengalaman. Tetapi, mereka yang segar-bugar lulusan S2 dan harus terjun mengejar dan selama ini tidak memiliki pengalama mengajar? Masalah pun muncul.

Alfi dan kawan-kawannya yang mendirikan CITA Indonesia, meraba pasti bahwa pedagogi perguruan tinggi ini diam-diam bakal menjadi bom waktu. Dan, dalam keyakinannya, bom waktu itu tetap berpeluang dijinakkan. Sekurang-kurangnya jika mencatat pedagogi perguruan tinggi usianya masih terbilang muda. Unesco pada 1998 di Paris menyelenggarakan konferensi dunia untuk pedagogi perguruan tinggi. Dalam laporan ini disebutkan bahwa pedagogi diawali pembaruannya di pendidikan kedokteran yang kelak menyebar ke seluruh disiplin.

Dengan memilih ruang terbuka di kafe-kafe (7pm Book & Cafe, Fullmoon Cafe, Loops), Alfi ingin berkontribusi langsung dengan masalah-masalah pendidikan di perguruan tinggi, dalam situasi yang santai menyenangkan–syarat sukses pembelajaran. Langkah pertama yang diayunkan berupa dua program utama, yakni:

Asdosku

Program Asdosku menjadi wadah segar bagi mahasiswa pascasarjana yang ingin memperdalam materi guna mempersiapkan diri menjadi seorang dosen nantinya. Pengalaman di kelas masih dirasa kurang bagi sebagian mahasiswa pascasarjana selama ini. Sehingga, adanya ruang belajar ini menjadi manifestasi besar dalam menunjang karir ke depan.

Co-Labs

Program Co-Labs memberikan peluang bagi mereka yang haus akan diskusi dan penelitian. Ruang-ruang diskusi dan penelitian yang masih kurang terinformasikan secara massal menjadi problematika saat ini. Mereka yang sedang membutuhkan wadah penelitian perlu difasilitasi dengan baik, jika tidak, mereka akan berkurang dan hilang.

Dua program ini sejatinya pernah menjadi model di perguruan tinggi Indonesia. Dulu, dekade 70-an kira-kira, masih mungkin ditemukan sebutan asisten dosen. Juga pada dekade itu sangat dimungkinkan seorang mahasiswa fakultas tertentu bisa belajar di fakultas lain dengan disiplin berbeda. Tetapi, seiring tumbuhnya administrasi-birokrasi di perguruan tinggi, tradisi bagus itu dilabrak untuk minggir. Dalihnya sederhana: seorang asisten dosen adalah mahasiswa, sedangkan mahasiwa profesi berbeda dengan dosen, jadi asisten dosen tidak bisa digaji. Tidak ada nomenklatur administrasinya. Begitu pun ihwal mahasiswa ‘merangkap’ disiplin lain di fakultas lain, mulai digerus oleh peraturan: kuliah-ujian-nilai. Meski kemudian kelemahan ini disikapi dengan istilah ‘mahasiswa pendengar’, tetapi tradisi berbagi ilmu itu luntur oleh pagar-pagar administrasi yang ketat.

Model yang ditempuh Alfi dan kawan-kawan dengan CITA, taruh kata harapan setitik dari ‘kacamata kuda’ yang dipakai mahasiswa ‘jaman now’. Mahasiswa yang kelak menjadi pemimpin bangsa, harus berwawasan luas, mengingat luasnya kekayaan ilmu di seantero daerah Indonesia. Seorang mahasiswa, menurut Alfi, harus menjadi tumpuan Tri Darma Perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian (kepada masyarakat). Dalam kata lain, menurut Alfi, mahasiswa harus piawai berbicara di depan forum, piawai dalam memetakan dan ‘metani’ permasalahan-permasalahan bangsanya yang bisa dicurahkan dalam penelitian, dan tentu saja mahasiswa harus berani dna tanggap membantu persoalan-persoalan masyarakatnya. Proses ketiganya ini akan menjadi menara kejayaan pendidikan perguruan tinggi ketika bisa diejawantahkan dalam sebuah buku.

“Pada sekarang ini CITA sedang fokus dan terus berupaya mengembangkan sekaligus mengenalkan CITA pada khalayak umum, khususnya Yogyakarta namun tidak menutup kemungkinan CITA juga akan menjamah kota-kota besar lainnya di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah, ”pungkas Alfi. (Teddy dan Bara)

You may also like...