Dilema Talenta Digital Indonesia

Topik tentang talenta digital memang sedang menjadi bahasan menarik di berbagai diskusi kalangan pemerintah dan industri. Memasuki masa revolusi industri 4.0, banyak pula muncul keluhan industri digital yang kesulitan mencari talenta yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan di masa kini.

Sedangkan untuk talenta digital sendiri, data menyebutkan Indonesia masih kalah dari India. Pada 2030, Indonesia diproyeksikan kekurangan tenaga kerja ahli sekitar 18 juta. Talenta digital di sini tidaklah terbatas tenaga yang memiliki kemampuan di bidang IT saja, namun juga kemampuan seseorang mengadaptasi perkembangan teknologi untuk keseharian pekerjaan mereka. Dengan perkembangan infrastruktur yang masif, Indonesia tampaknya juga harus segera melakukan perbaikan dalam mempersiapkan tenaga ahli yang peka dan paham digital. Berkerja sama dengan perusahaan ​web-hosting Niagahoster, Amikom Computer Club (AMCC) Yogyakarta mengadakan Digitalent National Talk pada Sabtu, 20 Juli 2019. Acara yang dihadiri mahasiswa IT se-Yogyakarta ini membahas tentang kualitas SDM di era digital dan dilematika penyaluran talenta ke perusahaan digital yang mengalami tantangan serius akhir-akhir ini.

Ada Apa Dengan Pendidikan Formal? Data Indonesia e-​Commerce Association (idEA) tahun 2018 yang dikutip oleh ​Kompas.com menyebutkan bahwa​ 65,55% mahasiswa hampir tidak tahu peluang karir apa yang ditawarkan oleh jurusannya di masa depan. 71,7% pekerja ternyata bekerja melenceng dari jurusan kuliah pilihannya dulu. Wayan Cahyono, ​Head of Product Niagahoster, mengonfirmasi data ini dan memberikan pendapat dari sudut pandangan perusahaan teknologi. “Sebagai orang yang bekerja di perusahaan teknologi, saya akui jika ​skill dan pengalaman menjadi hal yang lebih dipertimbangkan. Selain itu, kemampuan berbahasa Inggris juga menjadi nilai tambah​  bagi para pelamar” ujarnya. Sementara persentase pengangguran lulusan SMA/SMK turun dalam 2 tahun terakhir, lulusan sarjana dan diploma justru mengalami kenaikan persentase penyumbang pengangguran di Indonesia.​Data BPS dari Februari 2017 – 2019 menyebutkan, pengangguran diploma naik 8,5% dan sarjana naik 25%.

Dari fakta ini dapat dipahami bahwa persoalan penyelarasan SDM dengan kebutuhan industri merupakan pekerjaan rumah bersama pemerintah, industri, dan institusi pendidikan terkait. Pemerintah saat ini telah berupaya mengejar ketertinggalan ini dengan menjalankan beberapa program seperti; Digital Talent Scholarship oleh Kominfo dan program perbaikan kualitas SMK oleh Kemendikbud.

Perbaikan ini memang baik, namun diperlukan adanya regulasi yang terintegrasi dan masif dilaksanakan di seluruh Indonesia. Contohnya adalah penyesuaian kurikulum, mengundang pengajar dari kalangan praktisi digital, hingga edukasi tentang proyeksi pekerjaan pilihan di masa depan.

Calon Pekerja Harus Aktif
Banyaknya sarjana yang bekerja tidak sesuai dengan jurusannya menimbulkan pertanyaan baru; masih pentingkah ijazah?  Meskipun saat ini ijazah dianggap “tidak cukup” untuk membuat talenta digital “menang” dalam persaingan bursa kerja, menyelesaikan pendidikan formal masih menjadi syarat wajib mendaftar di perusahaan dan lembaga pemerintahan di Indonesia. Wayan Cahyono sekali lagi menegaskan bahwa peluang kerja bagi para milenial dapat diperoleh dimana pun, tidak terbatas pada bekerja untuk perusahaan digital. “Jika kita bicara perusahaan IT dan ​start-up​ , maka proses ​recruitingakan lebih menguji kemampuan teknis. Namun jika teman-teman ingin bekerja di BUMN atau lembaga pemerintah, tentu ijazah menjadi syarat penting. Semua kembali ke preferensi karir masing-masing orang.” ucapnya.

Bicara tentang kebutuhan talenta untuk industri di era digital, saat ini tidak hanya perusahaan IT atau ​start-up
saja yang memerlukan talenta digital. Seluruh sektor di Indonesia sudah mengalami digitalisasi, termasuk BUMN dan instansi pemerintah. Zulwiyoza Putra, ​Software Engineer Traveloka, yang juga menjadi pembicara dalam acara tersebut berbagi tips dan trik dapat bekerja di salah satu ​unicorn Indonesia.

You may also like...