Gaji Gede Para Pengurus Organisasi FIFA Sebabkan Korupsi?

KORAN YOGYA —-Gaji tertinggi Gaji tahunan dan kontribusi bagi para pensiunan pengurus FIFA jauh di atas gaji rata-rata yang dikucurkan oleh UEFA (177.000 dollar), Union cycliste internationale (108.000 dollar) atau gaji pengurus ITF – International Tennis Federation (100.000 dollar).

badai

Badai korupsi di tubuh FIFA (AFP)

Inilah yang dipandang memberi kontribusi risiko korupsi di dalam tubuh FIFA. Gaji yang diberikan FIFA kepada karyawannya hampir dua kali lipat gaji yang diberikan federasi olah raga lainnya.

Gaji tahunan rata-rata dan pensiun pengurus federasi sepak bola internasional yang bermarkas di Zurich ini sekitar 242.000 dollar, jauh tinggi di atas gaji para pengurus UEFA (177.000 dollar), UCI atau Union cycliste internationale (108.000 dollar) atau federasi tenis internasional (ITF, 100.000 dollar) yang bermarkas di London.

Satu-satunya yang bisa menyaingi gaji para perngurus FIFA itu adalah Komite Internasional Olimpiade, yang markasnya berada di Lausanne, dengan gaji rata-rata  217.000 dollar per tahun.  “Ini statistik yang lumayan gila,” komentar Profesor Leigh Robinson dari Sekolah Olahraga di Universitas  Sterling Skotlandia. “Selisih FIFA dengan lainnya itu kebangetan.”lanjutnya.

Di Swiss, satu bank swasta saja milik Julius Baer memberikan remunerasi pada tingkat itu dengan gaji rata-rata
263.000 dollar per tahun. Di tingkat dunia, bank investasi  Goldman Sachs yang paling berbaik hati pada karyawannya karena rata-rata kompensasi dan bonusnya sekitar 373.000 dollar untuk setiap karyawannya.

Fifa tidak memproduksi apa pun

Gaji tertinggi diberikan kepada 25 anggota komite ekseskutif juga untuk 12 direktur organisasi itu. Gaji mereka dibayaran oleh sebuah lembaga independen, di bawah komisi kompensasi, jelas juru bicara FIFA sambil menyebutkan bahwa tingkat remunerasi mereka sama dengan yang dipraktikkan di perusahaan-perusahaan internasional.

 Sejumlah tokoh universitas mencatat bahwa perbandingan FIFA dengan perusahaan internasional itu keliru besar. Pertama-tama, karena FIFA memiliki karyawan kurangd ari 500 orang sedangkan pada perusahaan multinasional memiliki puluhan ribu karyawan. Dan perusahaan multinasional ini memproduksi kekayaan dan layanan. Sedangkan FIFA memanen uang dengan cara menjual hak siar televisi dan hak iklan ketika terjadi pertandigan dan tidak seorang pun karyawan FIFA terlibat.

FIFA itu tidak bikin apa pun,”catat Profesor Simon Shibli dsri Universitas Hallam di  Sheffield Inggris. “Mereka cuma memegang monopoli legal dan sebagian besar pendapatan tidak berasal dari usaha atau bakat karyawannya yang bekerja di sana.”Tetapi juru bicara FIFA menolak tuduhan ini,”Kami memperkerjakan usaha-usaha orang lain. Kami bekerja tanpa henti dan melakukan investasi secara masif.”

You may also like...