Jemaah Haji Afrika : Antara Ibadah Dan Belanja Cindera Mata

IBADAH HAJI—Untuk bisa tiba di Mekkah dan menjalankan ibadah haji, jemaah dai luar Arab Saudi harus membuka kocek jutaan rupiah. Selain ongkos untuk tiket pesawat dan hotel, harus ditambah lagi dengan anggaran belanja lain: cindera mata atau oleh-oleh untuk para kerabat, sahabat atau tetangga.

Para jemaah meninggalkan Masjidil Haram setelah solat Isya, tiga hari menjelang puncak ibadah haji, 7 September 2016. Photo AHMAD GHARABLI/AFP

Sidi Mokhtar Dembele sudah membelanjakan uang sebanyak 500.000 franc CFA, atau 10 juta rupiah lebih, untuk membeli tasbih, sajadah dan banyak lagi cindera mata sebagai oleh-oleh untuk kerabat dan sahabatnya yang tinggal di Mali.

Inspektur Doane berusia 54 tahun ini, berbusana tradisional berwaarna biru dengan kepala dibungkus ubel-ubel putih, menyatakan sudah menjalankan kewajiban dalam Islam.

Inilah yang diperintahkan Nabi Muhammad kepada kami, kami harus membawa cindera mata untuk keluarga dan sahabat,” jelasnya kepada AFP di sebuah jalan di Mekkah.

Sekitar beberapa puuh meter jauhnya dari Masjidil Haram, di jalan  Ibrahim al-Khalil, tempat toko-toko berjajar bersaing dengan lampu-lampu berkedap-kedip dan papan tulisan dalam pelbagai bahasa untuk membujuk calon pembeli mendatangi, seperti yang dialami Mohammad Hassan.

Saya sudah membeli beberapa abaya,”gaun panjang tradisional kaum perempuan di negeri Teluk,”tasbih, sajadah, ratus,”kata insinyur berusia 61 tahun asal Mesir itu.

Oleh-oleh dari Kabah

Anggaran belanjanya mencapai 3.000 riyal Saudi, sekitar 10 jutaan rupiah. Ditambah lagi ongkos 70 jutaan rupiah untuk peswat, hotel di Mekkah dan Madinah, dua kota yang ‘wajib’ dikunjungi selama bulan haji.

Baginya tidak mungkin tidak mengeluarkan uang untuk belanja cindera mata yang akan membuat kerabat dan sahabatnya bangga. Cindera mata bulan haji memiliki nilai yang tidak terukur.

Anak-anak saya akan berkata: Ayahku bawa ini dari Kabah. Dalam pengertian umat Islam, Kabah adalah tempat suci untuk menunaikan ibadah haji dan solat 5 waktu, dengan nilai yang sama sekali tidak terbandingkan,” katanya.

Karena ibadah haji adalah suatu perjalanan spiritual yang tidak ditemukan di tempat mana pun di dunia. Karena di sanalah Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam sebagai agama umat sedunia. Sekaligus juga tidak siingkari bahwa bulan haji ini merupakan peluang industri bagi Kerajaan Arab Saudi karena menyumbangkan 50% pendapat per kapita.

Musim haji, dengan jemaah antara 1,5- 2 juta tamu Allah dari luar Arab Saudi, selama 10 hari, memiliki nilai yang sangat penting. Bahkan umrah pun yang mengundang jutaan umat Islam dari pelbagai negeri  bisa berlangsung selama setahun dengan penghasilan devisa trilyunan rupiah.

Menurut Kamar Dagang dan Industri Mekkah, pada 2015, para peziarah dari lar Arab membelanjakan sekitar 20 milyar riyal Saudi selama bukan haji, atau sekitar 6 trilyun rupiah, sedangkan dari jemaah lokal diraup sekitar hampir 2 trilyun rupiah.

Ekonomi sepanjang hayat 

Belanja untuk ibadah ini diperoleh dari menabung seumur hidup, kata Jamal Hamada dan isterinya, jemaah sal Mesir.”Kami bekerja bertahun-tahun untuk memiliki ongkos haji,” dan sebegitu ongkos tercukupi harus dilengkapi dengan belanja oleh-oleh.

Tahun ini saja, saat ibadah mencapai puncaknya, Majid Abadullah yang memiliki toko sajadah dan busana muslim, omset per harinya mencapai 20.000 hingga 25.000 riyal Saudi, sekitar 80 juta rupiah.

Tetangganya, Ali Abu Saadi, menyatakan hal serupa bahwa bisnis haji ini lancar-lancar saja. Di toko lelaki asal Yaman berusia 66 tahun itu, yang disarati oleh barang-barang made in China, pelanggannya adalah orang-orang kaya dan orang-orang dengan kocek terbatas. Karena dia tidak semata menjual tasbih dari kayu atau batu, tetapi juga menjual tasbih bermanik-manik plastik buatan Asia dan jam dinding yang menandai waktu-waktu solat 5 waktu dengan harga murah.

Di pinggir jalan menuju Masjidil Haram, di atas tikar atau kain digelar di tanah, para penjaja menawarkan minyak wangi tradisional asal Teluk atau kayu siwak, benda-benda yang digunakan pada zaman Nabi Muhammad. Dan sebagian besar komoditas cindera mata itu adalah simbol-simbol relijius, yang akan mengikat kenangan seolah masih di Mekkah, ungkap Umar Sar, 58 tahun asal Senegal.” Dengan cindera mata itu, kami mengajak para kerabat dan sahabat untuk datang ke Mekkah menyusul kami.” (KY-34)

 

You may also like...