“Kaum Rara dan Misoginisme”: Esai Bebas Untuk Kartini

Puisi Muslikh Madiyant (Foto MM)

Puisi Muslikh Madiyant (Foto MM)

Oleh Muslikh Madiyant

Dualisme keberadaban jender

Ada kemanjaan irasional, semacam amoralitas naif, saat Rara Mendut menolak penindasan asmara . Saat sembunyi-sembunyi, Rara Mendut menjalin asmara dengan Pranacitra, saat tidak ada kata lain kecuali: jika dunia ini sekedar mimpi, cobalah untuk terjaga. Dan, ketika kodrat manusia menyatakan terjaga adalah ‘lari’. Tragedi yang kelak mungkin dipahami, lari bukanlah memisahkan bayang dengan sepokok tubuh yang mencoba menolak cahaya. Lari, kelak kemudian dipahami oleh para waskita, adalah berkata tidak.

 Sayangnya pula, tidak, bukanlah kosa-politik di kurun terang benderangnya langit yang hanya mengenal satu bahasa: politik. Segala cara adalah daya mencapai titik patah absurditas waktu. Sedangkan, sekali lagi, waktu adalah bayang-bayang yang tidak benar-benar mau memisah diri dari sepokok tubuh terbias cahaya tadi. Nun, menurut sejarah eufisme kebiadaban yang ditemukan saat manusia mengenal aksara, politik setara dengan definisi pendek: perempuan tabu berkata tidak.

Kaum rara laiknya menjadi manusia secara sosial ketika mereka mampu membunyikan ya. Di sebuah dunia yang menandaskan irasionalitas adalah keseharian sebuah waktu berwajah kiwari (lalin macet, sesama pengguna lalin boleh saling memaki, klakson boleh ditekan dalam-dalam supaya telinga tergerus risi, supaya rasa jengkel memerintahkan otot kaki memijak pedal gas), keseharian sebuah panggilan kemanusiaan welas asih (korupsi, jual beli jabatan, universitas beralih menjadi tong sampah), keseharian yang sepi dari perdebatan jati diri (kita ini bangsa ataugedibal?) itu, kaum rara tidak bertahan dan juga tidak melawan.

Oposisi biner  ya  dan  tidak, menjadi terlalu rumit dimintakan jawab pada para strukturalis. Karena ya dan tidak justru menafikan penandaan bahasa. Karena ya dan tidak, bukan bangunan keraguan cartesien-camusien: Tuhan, jika Engkau adalah awal yang tidak mengenal akhir, kristal udara yang Engkau hembuskan pada dedaunan dahaga: air ataukah debu api?

 Dusta, politik pertama kaum rara

Ada keberanian irasional, tertangkap oleh mata Bandung Bandawasa, ketika Rara Jongrang tidak menjawab tidak  atau iya meningkahi kegarangan seorang laki-laki yang berkata:”Semua  sudah kalah olehku, aku tak tertandingi oleh apa dan siapa pun, tetapi aku tetap lelaki yang mengerti hati perempuan: aku melamarmu dengan segenap ruh nenek moyangku.” Rara Jongrang, bukan sekali ini saja menghadapi laki-laki, dan dia tahu benar hampir semua laki-laki adalah celemek saat mengutarakan cinta. Dan dia selalu punya pilihan untuk itu,”Cinta bagiku selalu muskil ketika hanya mulut yang mengucapkannya. Aku ingin melihat seberapa gagah tekad cintamu: mampukah dalam semalam kau membangun seribu candi pemujaan untukku?”

Mungkin keberanian yang sama pula menjalar pada Rara Mendut. Ketika kebebasan adalah suatu rêverie, suatu daya bawah sadar yang muncul dari naluri, ketika tembok kaputren menutup batas pandang kegairahannya saat mendapati tak satu pun laki-laki mampu mempertahankan nafsu jahil terhadap kecantikannya, terutama mendapati perempuan-perempuan lain mencongkak dagu karena gagal berebut crowd. Masih mungkinkah, ketika itu dan di zaman kiwari ini, dipahami bahwa rêverie bagi kaum rara adalah sebuah panggung kehidupan dan mereka primadonanya?

Pertanyaan itu lazim ditawarkan senyampang epos, tragedi, atau bahkan komedi tidak pernah tidak bebas dari sublimitas feminitas. Bayangkan epos Ramayana tanpa Sinta, akankah Rahwana diterima sebagai antagonis? Sampai-sampai gaya pedalangan Yogyakarta, sekali-kali waktu, harus membebaskan Rahwana dari himpitan gunung—padahal Hanuman hanya lalai sedikit dari tugasnya karena rindu pada gemericik air sungai sembari mengenang Ibunda Anjani tercinta pernah bertapa di sana —agar Pandawa berasa segar sedikit lantaran bosan melulu bertarung dengan saudara-saudara sepupunya dari kubu Kurawa.

Jawaban nyaris sama akan membentuk koor panjang manakala Mahabharata dilakonkan tanpa Drupadi. Episode perjudian antarsepupu Bharata adalah puncak misoginisme (paham kebencian terhadap perempuan) dalam sejarah sastra. Ketika semua harta, takhta,  dan derajat manusia ludes dipertaruhkan di atas lapik dadu, dan kejujuran seorang raja sekelas Yudhistira terbakar oleh ampas harapan muskil,”Permaisuriku, belum lagi tergadaikan, ia masih menjadi manusia bebas, masih memiliki nilai tukar,”batinnya.

Dan teori Yudhistira gagal: kejujuran tidak pernah menang di lapik dadu.

Dan absurditas jender tiba-tiba kehilangan penandaan kemanusiannya. Seorang puteri raja, secara sontak mendadak menjadi manusia yang kehilangan harkatnya. Dan Dursasana beralasan secara prerogatif memperlakukan budak sebagaimana gasing yang dibelit tali untuk dipusingkan. Agar jatuh. Terkapar. Tanpa busana. Dan gasing berjatidiri Drupadi menjadi objek kejahilan.

Dan tak seorang pun membela kedukaan puteri Raja Pancala itu.

Tidak pula seorang Resi Bhisma yang mencoba merebak mata. Dan malah mencoba mengetuk keterlanjuran Yudhistira yang teroposisikan antara jujur dan bodoh. Tidak pula Harjuna si ksatria penakluk wanita dunia. Bahkan pun Bima ketika bersumpah untuk merobek dada meminum darah Dursana dalam Bharatayudha, bukanlah pembelaan bagi derajat ibu semua laki-laki itu.

Tetapi, Drupadi, dalam ketakutannya yang tidak pernah dimengertinya selama sejarah pertikaian keluarga Bharata itu, masih memiliki kejujuran saat mengambil sumpah,”Aku tidak akan menggelung dan mengkonde rambutku sebelum bekeramas dengan darah denawa yang mengaku ksatria Hastinapura itu!”

Barangkali, keberanian Drupadi di tengah-tengah himpitan ketakutan amat sangat karena harus ditelanjangi Dursasana di tengah-tengah tawa berbaur napas-napas bau tuak, adalah kebohongan. Namun, kebohongan ini adalah kebenaran sejati, saat dirinya bertelanjang tanpa perlindungan tembok-tembok benteng kaputren, tanpa barisan pagar betis prajurit berhunuskan senjata.

Dan dia hanya punya kata.

 Simbolik, harkat akhir kaum rara

Jacques Lacan adalah contoh strukturalis yang merumuskan manusia sebenarnya berupa sederet kata. Tidak ada metafora yang mampu memajaskan manusia selain kata. Di lapis kesadarannya yang paling kasar sekalipun, kata bergeming darinya. Terlebih di lapis bawah sadar nan gelapnya, manusia menemukan kata sebagai bangunan struktur dirinya.

Melalui kata, sebagai sistem bunyi, Rara Jonggrang dalam ketenangan air telaga dini  hari, yang begitu gelisah ditingkahi ketakutan akan keberhasilan Bandung Bandawasa dan gedibal-gedibalnya mendirikan untuknya seribu candi, dia memilih membangunkan alam dengan kata. Seperti awal penciptaannya, kunfayakun, dedaunan, serangga, angin, unggas, berdzikir menyambut hari.

Melalui kata, Nawangwulan, yang terpedaya oleh nafsu jahil Tarub, menetapkan demarkasi laki-laki dan perempuan awawaktu dan awaruang. Sejak Tarub mengingkari demarkasi itu, saat membongkar rahasia teknologi perempuan menanak nasi cuma dengan sebutir gabah, sejak sebelum menemukan sayap-sayap bidadarinya, manusia harus terhukum untuk merencanakan teknologi pangan. Tidak ada lagi menanak nasi dengan sebutir gabah.

Tidak ada lagi keajaiban setelah perempuan teringkari.

Meski Drupadi masih juga memberikan keajaiban—setiap kali digasingkan oleh Dursasana, selembar busana entah dari mana menutup seluruh aurat kesuciannya—kepada keluarga suaminya, itu semata lantaran ia membutuhkan Kurusetra sebagai nom-de-la-mere. Sebagai jawaban dari pertanyaan: bagaimana aku bisa menggelung kembali rambutku.

Tetapi, Jonggrang dan Mendut, menolak kolaborasi. Karena keajaiban terlanjur dibataskan sebagai teka-teki. Karena keajaiban bukan lagi komoditas ketika dunia terlanjur menggandeng teknologi. Karena, sejatinya,  teknologi terlanjur menjadi manusiawi.

Jonggrang tidak menjawab ya atau tidak lamaran Bandung Bandawasa.

Mendut tidak menjawab ya  atau tidak akan permintaan Wiraguna kapan ia bersedia membukakan kelambunya.

Karena ya dan tidak adalah dunia konstruksi laki-laki. Dunia demikian adalah sebuah ruang yang impur. Sementara, sebagai maya (bumi atau ibu), mereka adalah pur spatium. Suatu ruang yang sarat akan tiada, tetapi senantiasa meng-ada. Dari tiada itulah kini pelancong bisa mengangumi candi Prambanan sebagai ruang yang tak lagi berjarak. Dari tiada itulah Indonesia di masa silam adalah pengekspor beras. Dari tiada itulah Indonesia ditumbuhi kewiraan pertiwi.

Jika Bandung Bandawasa murka karena terpedaya Jonggrang yang tidak memilih tidak  atau ya, tetapi memilihdusta, dan mengutuk Jonggrang sebagai patung keseribu, bukan karena esensinya adalah tiada. Jonggrang adalah memang eksistensi ada-sebagaimana-dirinya-tiada.

Jika pula Mendut memilih dusta karena menolak untuk membuka kelambu bagi Wiraguna, keputusannya untuk menuju jalan maut bersama Pranacitra, tentulah lapik bahasanya bertumpu: jika cinta memang awaruang dan awawaktu, mengapa pula harus menerima keterlanjuran tiada-sebagaimana-adanya?

Dusta, bukanlah dosa, ketika kita beragama atau tidak.

Dusta, bukanlah dosa, ketika orang lain tidak lagi mampu menolak kesendirian manusia.

Dusta, adalah ruang yang menyelamatkan Jonggrang dan Mendut dari nista.

Dusta, adalah waktu yang menyembunyikan perempuan memang ibu semua teknologi.

You may also like...