Kepribadian 10 Pengarang Dunia Dikalkulasi Oleh Super-Komputer Watson IBM

KORANYOGYA.COM—Sebuah super-komputer Watson bikinan IBM dirancang untuk mengungkapkan–meski nanti akan disebut juga meramalkan—kepribadian seorang pengarang berdasarkan teks apa saja yang pernah ditulisnya.

Anda licin, jujur, dan tenang.” Begitu super-komputer Watson membaca data yang dimasukkan seorang wartawan harian Liberation ke mesin analisis canggih itu. Data yang dimaksudkan adalah sebuah teks, minimum 100 kata, untuk dibaca Watson.

Mesin IBM ini bisa digunakan secara online untuk mengurai kepribadian seorang pengguna internet. Dan teks yang ditulis disediakan dalam dua bahasa, Inggris dan Spanyol. Hasilnya menyenangkan karena memperlihatkan rincian angka setiap aspek kepribadian si pengguna. Meski menyenangkan, komentar sejumlah wartawan, tetapi kurang meyakinkan.

Watson membaca wartawan tadi bersifat terbuka (935), mengejar kesuksesan 989%), mengingini perbaikan (98%). Sebaliknya Watson melihat wartawan Liberation disebut bukan orang sederhana (2%), dan kurang altruis (1%). Untuk menghasilan angka-angka itu, Watson mendasarkan diri pada 260 kata yang dikirimkan kepada seorang koresponden Amerika dalam konteks wawancara. Untuk mencapai hasil yang mendekati ketepatan sebaiknya diberikan kepada Watson sebuah teks 3.500 kata, atau bahkan 6000 kata, agar ‘analisis linguistik’ mencapai hasil terbaik menyampaikan ‘karakteristik kognitif dan sosial’ si pemilik teks.

Selain untuk mengetes diri sendiri, program Watson juga secara khusus tertarik untuk menganalisis kepribadian orang lain. Artinya, seorang pengambil keputusan bisa mengetahui karakter calon pegawai atau karyawannya melalui data-data curiculum vitae. Atau seorang pengusaha bisa saja mengetahui sifat atau karakter calon mintra bisnisnya dengan memasukkan data-data berupa teks milik calon mitranya.

Wartawan tadi, untuk menguji program Watson lebih jauh, memasukkan data-data 10 pengarang kelas dunia dari Prancis. Hasilnya memang menarik, kepribadian para pengarang itu cukup kaya dan beragam, dan memberikan aspek baru terhadap karya-karya sastra mereka. Berikut ini hasil analisis Watson terhadap 10 pengarang itu.

1. Kelompok Empatik

Bab pertama L’Etranger ‘Orang Asing’  novel monumental Albert Camus, penyabet hadiah Nobel Sastra,  dikirimkan kepada Watson. Hasilnya Watson menyebut novelis absurd ini “sentimental” dan “empatik” (yang sama sekali tidak mencerminkan tokoh utama novel l’Etranger), tetapi juga “sukar dihentikan” dan “secara relatif masa bodoh terhadap kebebasan dan keberhasilan.”

La personnalité d'Albert Camus, calculée à partir du premier chapitre de "L'Etranger" (LIDO SIPA Capture d'écran)

Kepribadian Albert Camus diramal berdasarkan bab pertama novelnya yang berjudul  “L’Etranger” (LIDO /SIPA/ScreenCaptured)

Karakter Albet Camus, melalui hasil tadi, dekat dengan Gustave Flaubert yang, dengan novel moralnya Madame Bovary, tampil dengan sifat “baik hati dan ekspresif”, tetapi sama-sama “empatik” dan mudah “percaya diri”. Karakter ini mengesankan kenaifan Flaubert dibandingkan dengan karyanya yang menganut realisme…

La personnalité de Gustave Flaubert, calculée à partir du premier chapitre de "Germinal" (GOLDNER/SIPA/Capture d'écran)

Kepribadian Gustave Flaubert diramal berdasarkan bab pertama novelnya yang berjudul “Germinal” (GOLDNER/SIPA/ScreenCaptured)

2. Kelompok Pretensius

Menurut Watson, Gustave Flaubert memiliki kepribadian yang berlawanan dengan  Molière, yang dengan lakonnya yang berjudul le Bourgeois Gentilhomme mengedepankan seornag manusia “sosial”, yang hingga zaman ini masih menjadi daya tarik komedi itu.  Moliere menurut Watson adalah seseorang “dengan satu estimasi tinggi terhadao dirinya sendiri.”

La personnalité de Molière, calculée à partir de la première scène du "Bourgeois Gentilhomme" (Flickr/Skara kommun/Capture d'écran)

Kepribadian Molière diramal berdasarkan adegan pertama “Bourgeois Gentilhomme” (Flickr/Skara kommun/ScreenCaptured)

Pierre Corneille tampil lebih lngkap. Le Cid, karya lakonnya itu, mengungkapkan sebuah kepribadian “sosial” tetapi “tanpa pretensi”, lantaran “pilihan-pilihan yang diikat oleh suatu keinginan prestisius.” Pada poin ini, Corneille paling lumayan.

La personnalité de Pierre Corneille, calculée à partir de la première scène du "Cid" (ABECASIS/SIPA/Capture d'écran)

Kepribadian Pierre Corneille diramal berdasarkan adegan pertama lakonnya yang berjudul “Le Cid” (ABECASIS/SIPA/ScreenCaptured)

3. Kelompok percaya diri

Bagi  Voltaire, karakter dominan yang menguasainya adalah “kalem”. Novelnya yang mendunia Candide membangun karakter “jujur dan dapt dipercaya”, tetapi juga memberinya sifat mampu “mengelola perisitiwa-peristiwa tak terduga kedalamannya dan efisien.” Data baru ini memungkinkan pembaca untuk melakukan pembacaan perjuangan-perjuangan seru  filosof Abad Pencerahan ini.

La personnalité de Voltaire, calculée à partir de la première scène de "Candide" (AFP/Capture d'écran)

Kepribadian Voltaire diramal berdasarkan adegan pertama “Candide” (AFP/ScreenCaptured)

Karakter Voltaire ini mendekatkan dirinya pada Emile Zola yang, pengarang sosio-psikologis yang dahsyat, novelnya Germinal menggambarkannya sebagai sosok pribadi yang “tenang dalam tekanan” dan “yakin pada diri sendiri”. Dia juga memiliki sifat “berkeinginan sejahtera”, yang tampak pada rumahnya di desa Médan.

La personnalité d'Emile Zola, calculée à partir du premier chapitre de "Germinal" (GOLDNER/SIPA/Capture d'écran)

Kepribadian Emile Zola dihitung berdasarkan bab pertama novelnya yang berjudul “Germinal” (GOLDNER/SIPA/ScreenCaptured)

4. Tidak peka

Watson juga mengelompokkan sejumlah pengarang yang terhitung tidak peka. Di barisan depan kelompok tersebutlah Jules Verne, yang novelnya dengan judul 20.000 lieues sous les mers  menyajikan kepribadiannya sebagai seorang “skeptis” dan “filsuf”, dan “suatu imajinasi di luar batas”. Satu hal yang sangat tepat digambarkan oleh super-komputer itu.

La personnalité de Jules Verne, calculée à partir du premier chapitre de "20.000 lieues sous les mers" (LASKI/SIPA/Capture d'écran)

Kepribadian Jules Verne dikalkulasi berdasarkan bab pertama “20.000 lieues sous les mers” (LASKI/SIPA/ScreenCaptured)

Stendhal berada di baris kedua tampail sebagai pribadi yang “sedikit tak peka dan skeptis.” Lewat novel romantis-realisnya Le Rouge et le noir ‘Merah dan Hitam’ sebagai pengarang dia disebut Watson sebagai probadi yang “yakin pada dirinya” dan tertarik pada “pengalaman-pengalaman yang mendatangkan kenyamanan.” Dalam karya-karya pengarang romantisme ini tokoh-tokohnya memang pemburu kebahagiaan.

 La personnalité de Stendhal, calculée à partir du premier chapitre du "Rouge et le noir" (GOLDNER/SIPA/Capture d'écran)

Kepribadian Stendhal dikalkulasi berdasarkan bab pertama novelnya yang berjudul “LeRouge et le noir” (GOLDNER/SIPA/ScreenCaptured)

 asil yang hampir sama juga diperoleh pada  Jean-Paul Sartre. Lakon pendeknya Huis clos ‘Pintu Tertutup’ menggambarkannya sebagai seorang lelaki yang “jujur, sedikit tidak peka dan skeptis.” Meski begitu, dia adalah seorang “filsuf yang terbuka akan gagasan-gagasan baru”, dan sebutan ini sangat selaras dengan karya-karya eksistensialismenya, doktrin yang lebih menekankan pada kehidupan katimbang keberadaan.

La personnalité de Jean-Paul Sartre, calculée à partir du premier chapitre de "Huis Clos" (RUDLING/SIPA/Capture d'écran)

Kepribadian Jean-Paul Sartre dikalkulasi berdasarkan bab pertama lakonnya yang berjudul “Huis Clos” (RUDLING/SIPA/ScreenCaptured)

5. Kelompok kaku

Victor Hugo diramal melalui bagian-bagian awal novelnya Notre-Dame de Paris (AFP/ScreenCaptured)

Akhirnya, Victor Hugo terungkap sebagai pribadi, lewat novelnya yang seru Notre-Dame de Paris, yang “kaku dan kurang peka”. Tetapi dia juga seorang “filsuf”, “dia “yakin pada diri sendiri” dan “tenang dalam tekanan.”Jenggotnya terutama. (KY-28)

You may also like...