Ketika Kuliner Dikreasi Oleh Sunaryo Art Space, IFI Bandung, dan Enora Lalet Menjadi Filosofi Bhineka Tunggal Ika

Catatan Resti Popon Hartini

Jum’at 24 Februari 2017 digelar  pameran Tata Boga yang merupakan karya dari Enora Lalet. Selasar Sunaryo Art Space bekerja sama dengan IFI Bandung memfasilitasi residensi Enora Lalet dan Matthias Lothy seniman asal Prancis. Pameran Tata Boga menghadirkan bentuk visual dengan material bahan makanan lokal dari Indonesia serta model lokal dari Indonesia pula.

Foto Koran Yogya.

Pameran ini dibuka oleh Sunaryo selaku direktur dari SSAS, Melanie Martini selaku direktur dari IFI Bandung, Agung Hujatnikajennong serta Enora dan Matthias. Setelah memberikan sambutan Enora membuka pamerannya dengan memotong ujung fla dari karya instalasi hanging buffet. (Popon/KY)

Tata Boga adalah sebuah pameran tunggal dari Enora Lalet sang seniman visual kuliner asal Perancis. Enora bekerjasama dengan Matthias Lothy yang berperan sebagai photographer dari karya seni nya. Terdapat 14 karya yang di hadirkan di Ruang B, Selasar Sunaryo Art Space. Pameran ini  berlangsung hingga 26 Maret 2017 di Selasar Sunaryo Art Space yang terletak di Jalan Bukit Pakar Timur No. 100 Bandung. Pameran ini dibuka oleh Sunaryo selaku direktur dari SSAS, Melanie Martini selaku direktur dari IFI Bandung, Agung Hujatnikajennong serta Enora dan Matthias. Setelah memberikan sambutan Enora membuka pamerannya dengan memotong ujung fla dari karya instalasi hanging buffet.

Foto Koran Yogya.

Penari Bali bermahkota kerupuk (Popon/PY)

Hanging buffet adalah sejenis dadar gulung yang ditata  membentuk bunga kemudian ditambah lagi dengan kucuran dari fla warna warni yang tersebar menggantung diatasnya. Karya instalasi ini cukup interaktif karena para pengunjung dapat ikut mencoba memotong dan mengarahkan tetesan fla tersebut serta dapat menyantap langsung pancake tersebut. Di dalam ruang B terdapat 14 potret karya dari Enora Lalet seperti Mata Kerupuk Legong, Kerupuk Legong, Flag-Mie for Bhineka Tunggal Ika, Kandang Rambutan & Burka Seroja, Salak & Beras, Papupapeda, Polong vs Sukro, Kopi Cethe & Kecap Manis Menetes, Rambut Kacang Panjang, Nangka Macet, Kepala Donat, Kepala Green Stick, Topi Naga, dan Daging Naga. Material yang Enora lalet gunakan dalam proses pembuatan karya ini adalah body painting, beberapa buah ataupun sayuran yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari hari serta perlengkapan tambahan pendukung lainnya.

Yang menarik dalam karya Enora Lalet ini adalah hadirnya semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam karya berjudul Flag Mie for Bhineka Tunggal Ika. Menarik karena hadirnya “tanya tanya” dalam karya tersebut serta di tambah pula kehadiran 4 pasang tangan dan mata yang merepresentasikan keadaan seperti dipenjara, posisi tangan yang menopang sang mie berwarna merah putih tersebut dan lainnya seakan memeluk dan berusaha mempertahankan mie tersebut.

Kemudian terdapat pula karya berjudul Kepala Donat dan Burka Seroja yang keduanya membicarakan masalah gender. Mengapa Burka Seroja hanya memunculkan sepasang mata diantara indahkan bentuk bentuk dari kembang seroja tersebut. Bentuk dan posisi itulah Enora memaknai bahwa didalam karyanya tersebut ia tidak ingin bahwa wanita terus menutup diri. Sedangkan Kepala Donat kurang lebih hampir sama maknanya dengan Burka Seroja yang hanya memunculkan mulut saja.

Foto Koran Yogya.

Foto Popon/KY

I try to speak about the semboyan of Indonesia because I had experience  of Indonesia here for a long time and I feel that more and more Indonesian forget this amazing semboyan is Bhineka Tunggal Ika. That’s why I ask the question is this still are together in the diversity  or not and  that’s why I put some lubang, some hole inside this flag mie because this maybe this semboyan want to disappear more and more and maybe this hand tried to keep the this a life and also with different ways somehow hugs somehow pegang ya, tried to handle and somehow like feeling like in jail. So it’s different meaning like different ways of take care, of caring this concept Bhineka Tunggal Ika” papar Enora Lalet mengenai karya Flag-Mie for Bhineka Tunggal Ika.

Also I’m really interested with position of woman in the world. That’s why I use some shape of costume to speak about that. For example Burka Seroja, you can see just the eyes of this woman but it’s really beautiful with a flowers it’s colourful but finally this woman is hidden and to be hidden is not normal. I don’t like that’s  the gender have to be different.” Tambahnya.

Foto Koran Yogya.

Foto Popon/KY

I don’t like the superiority of the man on woman. That’s why i try to speak about this and for the Kepala Donat is the same it’s also kind of shape of Burka. That’s you can see the mouth. Finally it’s really sexual also but in the same time it’s like take the woman as object or like they have to be shame about them selves just Because they born as a woman. So, I try to speak about that in the soft way” jelas Enora.

Terdapat pula proyek seni berbasis lokakarya bersama seniman muda dan mahasiswa seni rupa, kriya tekstil, fashion dan desain produk yang mengolah dan mengembangkan gagasan dari “makan” dan “makanan” serta bermain dengan asosiasi mengenai gourmet. Ada 8 orang yang ikut berpatisipasi dalam pameran hasil workshop bersama Enora Lalet diantaranya adalah Adityo Sunarya, Tasia Sugiyanto & Ayda Khadiva, Elan Budikusumah, Megumi Nurul Aini, Sabrina Salma & M. Ilham Akbar, Yoshara Eltyar.

Pada hari Sabtu, 25 Februari 2017 dilaksakan diskusi bersama Enora Lalet yang dipandu oleh Chabib Duta Hapsoro serta dihadiri pula oleh Melanie dan Achille Mareel. Diskusi yang diselenggarakan di Bale Handap Selasar Sunaryo Art Space ini membahas seputar karya dari Enora Lalet. Beberapa bahasan menjurus tentang alasan Enora Lalet tidak menggunakan material daging atau makanan yang sudah jadi. Beberapa alasan yang dipaparkan adalah bahwa Enora Lalet sendiri merupakan seorang vegetarian dan menghindari daging untuk bahan material dari karyanya.

You may also like...