Kilas Balik Perempuan Dalam Linimasa Pers Nasional

Résultat de recherche d'images pour "la presse et la femme"

Pers dan perempuan. Istimewa

Pers dalam usaha untuk memperjuangkan kebebasan nyatanya tidaklah sepenuhnya berdiri di atas fondasi kebebasan yang hakiki. Pusaran pers seperti halnya banyak bidang lain, (masih) terkungkung oleh semangat patriarki. Dominasi pria dalam dunia pers beimbas secara logis pada kebijakan redaksional yang menempatkan perempuan pada wilayah dominasi oleh pria.

Dominasi inilah yang mendorong munculnya para tokoh perempuan dengan membawa semangat feminisme ke dalam dunia pers. Salah satu pejuang emansipasi dan nasionalisme asal Sumatera Barat, Roehana Koeddoes menjadi Wartawati Pertama di Indonesia sekaligus pendiri surat kabar Sunting Melayu yang sepenuhnya berdiri atas asas pemberdayaan perempuan.

Baru pada tanggal 9 Februari, 72 tahun silam lahirlah organisasi profesi wartawan yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Badan ini turut menjadi awal partisipasi perempuan dalam pusaran pers Indonesia dengan terbentuknya lembaga pers nasional yang memberikan ruang bagi pergerakan wartawati di dunia pers.

Ketimpangan posisi perempuan dalam masyarakat, termasuk di dunia jurnalistik mengalami perubahan positif terutama sejak reformasi dicanangkan pada 1998. Kebebasan untuk berpartisipasi dalam ruang publik semakin terbuka dan selaras dengan meningkatnya jumlah badan pers Indonesia beserta kontribusi perempuan dalam dunia pers di Indonesia.

Posisi perempuan dalam dunia media telah mengemuka dalam beberapa tahun belakangan. Figur wanita yang terkenal akan karakter tegas dan kritisnya, Najwa Shihab. Bersama dengan acara kondang yang dibawakannya, Mata Najwa, menjadi contoh akan semakin kuatnya peran perempuan dalam berbagai bidang, khususnya pers. (Wahyu Ramadhan)

You may also like...