Kolak Yang Terlupakan

 Image result for kolak buka puasa

Berbuka adalah wajib dilakukan untuk membatalkan puasa, setelah dilakukan seharian penuh sampai waktu yang telah ditentukan tiba. Berbuka menjadi salah satu momen yang paling ditunggu, karena banyak masyarakat yang menjadi penjual takjil mendadak. Taman-taman kota atau jalanan sekalipun dirubah menjadi tempat surga berbagai jajanan untuk berbuka puasa.

Salah satu kudapan yang menjadi khas untuk masyarakat Jawa saat berbuka adalah kolak. Kolak terbuat dari santan dengan campuran gula merah dicampur pisang dan ubi manis sebagai pelengkap. Masyarakat Jawa pasti membuat kolak untuk menyambut berbuka puasa di rumah, di masjid ataupun dijual kembali.

Seiring berjalannya waktu yang semakin modern, tradisi membuat kolak mulai hilang. Kolak mulai digantikan dengan cappucino atau coffefloat yang ada di cafe. Tradisi berbuka digantikan dengan makanan fastfood di restoran atau cafe-cafe.

Walaupun sederhana, kolak sendiri tidak hanya sekedar makanan saja, namun juga memiliki makna filosofi yang mendalam.

“Kolak itu tradisi di keluarga saya, jadi kalau puasa ya harus ada kolak,” ujar Bu Dasinem seorang ibu rumah tangga yang selalu membuat kolak setiap ramadhan.

Menurutnya, kolak bukan hanya sebagai makanan manis pelepas haus dan lapar setelah puasa, namun kolak memiliki makna filosofis yang mendalam. Mulai dari namanya yaitu kolak berasal dari kata “khaliq” atau pencipta atau sebutan orang jawa adalah Gusti Allah yang maha mencipta. Senantiasa diharapkan agar selalu ingat kepada Sang Pencipta.

“Kalau isinya itu yang pertama ada pisangnya. Kalau sekarang pisangnya macem-macem kan, kadang ada yang enggak pakai pisang juga. Tapi yang sebenarnya itu pakai pisang kepok. Kepok kuwi yo artinya kapok, harapannya supaya kita tidak berbuat kesalahan atau hal yang jelek yang membuat kita kapok.” Bu Dasinem menjelaskan.

“Kalau ubi itu kan telo pendem dalam bahasa Jawanya, itu harapannya supaya ndak mengungkit kesalahan, mengubur aib-aib. Kalau santannya itu artinya suci karena ini bulan suci dan ben resik atine.” Lanjutnya.

Beliau juga menjelaskan bahwa kolak ini sudah menjadi tradisi dan semestinya generasi sekarang tetap melestarikan. Kolak ini memang sederhana namun dengan makna yang baik yang menuntun kita pada kebaikan pula.

Kolak yang sederhana dengan harga murah meriah, telah kalah dengan minuman di cafe yang menguras kantong. Hal ini menjadi kolak semakin hilang seiring perkembangan jaman.

Yani Oktaviani

You may also like...