Malam Jumat 6 April Amerika Bombardir Suriah Dengan 59 Rudal

Koranyogya.com—Amerika membombardir sebuah pangkalan udara Suriah pada malam Jumat, 6 April 2017. Donald Trump menghimbau “semua banga beradab untuk menghentikan kebiadaban di Suriah”. Kalau mau jujur, serangan Amerika ini ditujukan kepada Rusia, yang terang-terangan di belakang Suriah dalam memberantas pemberontakan dalam negeri Suriah.

Le destroyer « Ross » de la marine américaine tire un missile d’attaque terrestre Tomahawk de la mer Méditerranée, le 7 avril 2017.

Kapal perang destroyer « Ross » Al-Amerika meluncurkan rudal darat Tomaahawk dari laut Mediteriania, 7 April 2017. FORD WILLIAMS / AFP 

Ini sebuah spekulasi yang tidak saja berbahaya, tetapi merugikan pihak ketiga, begitu kata sejumlah pengamat internasional. Pemboman metro Saint Petersbough yang langsung dijawab Rusia dengan menghajar Idlib dengan bom gas beracun, maka Suriah pun menjadi pelanduk di tengah pertempuran dua gajah. Tetapi, menjadi pelanduk itu suatu pilihan yang harus ditempuh Suriah, selama 4 tahun negeri ‘Syam’ itu bertahan dari gempuran koalisi internasional, dan tetap bertahan. Sementara, para pemimpin Arab yang dikecam tidak menjalankan demokrasi sudah rontok tragis: Kadhafi, Husni Mubarak, dst.

Pernyataan Amerika menyerang Suriah lewat destroyer “Ross” dari timur Mediterania untuk menjawab serangan gas beracun warga Suriah, adalah pernyataan sikap Amerika yang berubah, yang sebelumnya menyerahkan nasib BasyarAl-Assad kepada rakyat Suriah, kini nasib presiden Suriah itu ada di tangan koalisi internasional. Dan tentunya Rusia memegang peran penting, jika dia mencabut dukungannya kepada Suriah, maka jatuhnya Suriah, secara teoretis, tinggal menunggu waktu.

Gedung Putih mengaku melepas 59 rudal balistik ke pangkalan udara Shyarat, untuk tuduhan pangkalan ini terkait dengan program senjata kimia di Timur Tengah. Sementara Suriah mengaku tidak lagi memiliki senjata kimia sejak tahun 2014.

Reaksi Rusia lumayan keras untuk serangan mendadak Amerika itu. Vladimir Putin membatalkan persetujuan penundaan insiden udara dengan Washington. Pernyataan ini dapat diartikan bahwa jika Amerika melakukan serangan, maka Rusia dapat membalasnya atau bahkan mencegahnya. Seperti yang terjadi beberapa bulan silam, ketika Rusia menyerang dengan rudal sebuah pangkalan militer yang di dalamnya terdapat perwira Amerika, Israel, Arab Saudi, di utara Suriah.

Trump: hentikan pembantaian

Saat di Florida, dalam rangka menyambut rekannya dari Tiongkok, presiden Xi Jinping, Trump mengatakan.”Malam ini saya perintahkan tindakan militer untuk Suriah yang sudah melakukan serangan senjata kimia. Karena Assad telah merenggut nyawa lelaki, perempuan, dan anak-anak yang tidak berdaya.”

Menlu Amerika juga mengecam serangan senjata kimia itu mengatakan,”Rezim Suriah di bawah presiden Basyar Al Assad harus bertanggung jawab atas serangan itu.” Begitu juga Kanselir Jerman, Angela Merkel, menuding Assad harus bertanggung jawab atas serangan penduduk sipil tu.

Kerugian Suriah

Menurut pihak militer Suriah, serangan Amerika menyebabkan sejumlah kerugian, tanpa menyebutkan kerugian material atau jiwa.”Pada waktu subuh, pangkalan-pangkala udara kami di pusat Suriah diserang oleh rudal-rudal Amerika dan menyebabkan banyak kerugian. Agresi ini melanggar keberadaban sebuah negara berdaulat,” kata televisi Damaskus.

You may also like...