Mall of Arabia: Jendela Kesejahteraan dan Konsumerisme Arab

Koran Yogya—Arab-Islam yang galak, yang anti modernitas, yang anti barat, yang anti anti-Arab, yang membikin gemetar perdamaian dunia—di masa-masa mendatang akan digantikan oleh emblem Arab-Islam yang lain: hipermarket dan ultra-komersial.

Salju di tengah gurun pasir? Memang tidak lazim. Karpet hijau membentang di sana, masihkah lazim? Frozen Yogurts pink? Kabinet pemutih gigi? Taman yang penuh warna-warni pelangi? Pendeknya semua hal, semua yang dibayangkan ada di surga ada di sini, di Mall of Arabia.

Mohamed Saeed, 25 tahun, adalah manajer sebuah toko kecil es krim di pintu 23, di antara lorong untuk lalu-lalang pengunjung. Apakah itu benar-benar toko? Patutnya memang pantas disebut stand permanen yang kecil–yang bisa dipindah-pindahkan, lantaran ‘di lantainya’ terdapat roda-roda.

Malam hari, seusai melayani pembeli, Saeed mengemasi hasil penjualannya dan melaporkan semuanya ke boss besar lewat internet. Tetapi, Saeed tidak bergegas segera pulang, sampai menjelang tengah malam dia masih bekerja. Seperti semua pekerja di super-mall ini.

Untuk mencapai pusat komersial ini, dibutuhkan beberapa waktu menelusuri jalan-jalan Kairo Membelah jalan-jalan di antara piramid-piramid yang menjulang ke langit. Kemudian memasuki gurun pasir di pucuk Sahara Barat. Di sana pemandangannya semi-gurun, semi-kota, dan barulah kita tiba di 6th October City, sebuah kota kecil yang tumbuh di tengah-tengah gurun pasir Mesir. Di sanalah hipermarket itu menjulang ke langit, hipermarket Arab, hiper-halal.

Mall of Arabia adalah sebuah jendela kemakmuran konsumerisme Arab. Apakah wajah baru Arab ini mencerminkan semacam selera yang berlebihan? Boleh jadi. Hipermarket ini lebih mirip dengan bandara, atau dalam istilah lain, mirip dengan piramid modern. Semua serba raksasa, di luar batas-batas kenormalan.”Ini sintesis sempurna konsumerisme, jagat hiburan dan urbanisme spektakular bertilaskan semangat pharaonic,” catat Mike Davis dalam bukunya berjudul Le stade Dubaï du capitalisme.

Kegilaan apakah yang merasuki jiwa pangeran milyarder Arab yang membangun kompleks komersial ini? Kegilaan apakah yang mengilhami para arsiterknya? Pasalnya, mall ini benar-benar sebuah kota! Jalan-jalan yang membentang di bangun begitu mewah—rasa-rasanya bikin gerah negeri-negeri miskin Afrika yang jalan-jalan utamanya masih berdebu campur kotoran khewan. Lihat saja kompleks shopping-mall yang laiknya sebuah pusat kota, dengan jalan-jalannya, dengan main streetsnya, jalan-jalan arteri yang melingkarinya. Inilah mall yang membangun kota, sebuah pusat komersial yang menyuguhkan kehadiran kota.

Mega-mall ini memiliki 23 pintu masuk, atmosfer yag ditumbuhkan adalah kota raksasa, tetapi udaranya sejuk karena sistem pendinginnya. Para pengunjung tidak bakal pegal kakinya, lantaran beberapa lorong utama dilengkapi lantai berjalan seperti di bandara internasional. Semua sudut bisa dicapai. Yang bikin capek mungkin malah kebingungan mau memilih yang mana atau yang apa.

Laiknya mega-mall, keseragaman adalah kesemestian. Di Mall of Arabia ini semua merk di jagat bakal dijumpai (Adidas, Bershka, GAP et GAP Kids, Levi’s, Tommy Hilfiger, Zara, etc.), bahkan kapsul Nespresso yang sama, hp Samsung yang sama di Indonesia dan bahkan Virgin Megastores.

Lazimnya mall-mall di jagat ini, di sana ada juga «Food Court»,  yang bagian dalamnya menyediakan 50 restoran, dan di bagian luarnya 50 restoran.

Terilhami dunia  lain 

Pada 1945, di Amerika ada 8 shopping centers. Jumlahnya membengkak menjadi 3000 pada  1958, lebih dari 7000 pada 1963, 22.000 pada 1980 dan sekarang ini mendekati angka 45.000. Mesir, rada malu-malu ingin mengimpor model itu—ingin berteori bahwa shopping mall dapat mendongkrak perumbuhan ekonomi.

Di Mall of Arabia, ada kereta mini untuk anak-anak berkelana dari satu restoran ke restoran lain di bagian luar hipermarket ini. Akan halnya bagi para pengunjung yang berduit, mereka bisa menyewa “Mall Taxi” yang lebih cocok disebut golf cart. Sejumlah ahli bertanya: inikah konsumerisme masa depan atau justru simbil dekadensi?Apakah ini ultra-kapitalisme yang membekap Arab ataukah pemerosotan generasi?

Bagian dalam Mall (Foto DR)

Kasus contoh ada di sebaliknya. Mall ini milik seorang warga Arab Saudi, yang belakangan ini dia bikin franchise di seluruh negara Teluk, Mall of Arabia meminjam nama Mal of America, pusat komersial terbesar di dunia saat didirikan pada 1992. Terletak di 18 km selatan Minneapolis, Amerika, mega mall ini memiliki 520 toko, 50 restoran, 12 ribu tempat parkir. Di sini setiap tahunnya 40 juta pembeli berkunjung plus wisatawan dari segenap penjuru dunia.

Di Mesir konsep itu mungkin menjanjikan hal lain. Taruh kata Mall of Arabia sebuah jiplakan persis, tetapi punya aspek lain yang berbeda: Islam. Tetapi, itu bukan suatu jaminan. Di Mesir yang langsung menggari dan menghukum mahasiswa yang mengaku kafir, negeri yang mengeksekusi mati ratusan anggota Ikhwanul Muslimin, shopping mall ini dipandang ahli barat sebagai miniatur simbol toleransi. Karena para pengunjung perempuannya mengenakan busana yang berbeda-beda, berjilbab penuh, atau berpakaian modern tanpa penutup kepala, kaum mudanya terutama.  Meski di bagian dalam mall tertulis respectfull clothing.

Anti-tembakau pun diberlakukan. Di seluruh mall merokok dilarang. Meski masih kedapatan sejumlah pekerja atau pengunjung merokok terlebih dulu sebelum masuk ke mall.

Aman, sejuk, hiburan

Di atas segalanya, Mall of Arabia sukses di tiga hal: keamanan, kesejukan udara, dan hiburan. Untuk masuk ke dalam hipermarket, pengunjung diperiksa dua kali. Pertama di parkiran, semua mobil diendus oleh anjing-anjing pelacak. Di pintu masuk tas pengunjung digeledah. Di dalam CCTV bertaburan mengawasi. Yang kedua soal kesejukan udaranya yang menyegarkan pengunjung walau di luar mall udara mencapai 40 derajat celcius. Soal hiburan, jangan tanya, ada 13 bioskop yang memutar 40 film setiap harinya. Hiburan berbayar cukup banyak. Hiburan gratis tentu banyak pula. Seperti The Dancing Fountain, atraksi yang bakal disukai keluarga. Sebegitu malam jatuh, dengan segera ratusan air mancur menyembur ditingkahi cahaya dan suara, air mancur itu berdansa-dansi selama 10 menit. Sebuah hiburan yang oleh sebagian ulama memasgulkan karena di luar, di gurun pasir, air benar-benar emas nan berharga. Di sini hanya barang mainan.

«The Dancing Fountain» (Foto DR).

You may also like...

Leave a Reply