Mantan Presiden Iran Akbar Hachemi Rafsandjani Meninggal Dunia

Koranyogya.com—Mantan presiden  Iran, Akbar Hachemi Rafsandjani, figur berpengaruh di Republik Islam Iran, hari Minggu (8/1) meninggal dunia di rumah sakit Teheran karena sakit jantung.

Voir l'image sur Twitter

Dia merupakan salah satu tokoh kunci di Républik Islam Iran. Mantan presiden Iran ini, Ayatollah Akbar Hachémi Rafsandjani, meninggal dunia hari Minggu 8 Januari setelah mengalami gangguan jantung, kutip kantor berita Isna dan Fars.

Ayatollah Rafsandjani dilarikan ke rumah sakit di bagian utara Teheran.”Kerumunan orang berkumpul pada Minggu malamdi depan rumah sakit setelah mendengar Rafsandjani meninggal,”ungkap Mariam Pirzadeh reporter Teheran untuk media France 24

Voir l'image sur TwitterVoir l'image sur TwitterVoir l'image sur Twitter

Voir l'image sur Twitter

Hingga akhir hidupnya, Akbar Hachémi Rafsandjani tetap menjadi figur berpengaruh di Iran. Dia menduduki Dewan Kebijakan, penasehat Ayatollah Ali Khamenei dalam hal permusuhan antara Dewan Garda Konstitusi dengan Parlemen.

Dalam bayangan Hassan Rohani

Tahun-tahun belakangan pengaruhnya di lingkungan lembaga-lembaga negara merosot.  Pada 2013, Dewan Penjaga Konstitusi dan Dewan Garda membatalkan pencalonannya di pilpres.Dengan alasan usianya lmayan lanjut. Tetapi, dengan dukungannya dan dukungan  mantan presiden reformasi Mohammad Khatami, Khatami terpilih sebagai presiden pada Juni 2013.

Pada Februari 2016, Ayatollah Rafsandjani meraup kemenangan simbolik melawan golongan konservatif, yang mengasingkannya dari panggung politik, dan dengan terpilihnya Rafsandjani memimpin perkumpulan para ahli
yang menjadikannya sebagai pemimpin tertinggi.

Voir l'image sur Twitter

Voir l'image sur TwitterVoir l'image sur Twitter

Voir l'image sur Twitter

Rohani dan Rafsandjani dalam perang Irak-Iran

Partisan pendekatan dengan barat

Akbar Hachémi Rafsandjani selalu berada di jantung politik Iran, mengusulkan pendekatan kembali dengan barat, terutama dengn ‘setan besar’ Amerika.

Di masa pemerintahannya, 1989-1997, Iran agak malu-malu mendekat ke barat. Dia pun membuka pintu negeri, menggerakkan program pemulihan diplomasi dengan barat setelah 8 tahun berperangan dengan Irak (1980-1988)

Tahun-tahun belakangan dia mulai mengritik Ayatollah Khamenei, berseberangan dalam politik ekonomiyang dipandangnya terlalu liberal dan menyebabkan inflasi 40%.

Kambing hitam ultra konservater.

Krisis politik yang diikuti dengan terpilihnya calon dari partai konservatif, Mahmaud Ahmadinejad pada 2009 menyebabkan retaknya hubungan pemerintah dengan Akbar Hachemi Rafsandjani. Dukungannya kepada calon presiden dari golongan reformis, Mir Hossein Moussavi, menyebabkan dia menjadi salah oposisi. Anak gadisnya, Faezeh dan anak lelakinya Mehdi dijebloskan ke penjara dengan tuduhan membahayakan keamanan nasional.

Setelah dikritik secara tak langsung oleh Ayatollah Khamenei, Rafsandjani memilih low-profile dan tetap menjadi ketua Dewan Kebijakan.

Lahir 25 Agustus 1934 di Rafsandjani (selatan) dari keluarga berada, dia kelak menjadi mahasiswa teologi dan terjun ke politik pada 1963 setelah ditangkap oleh polisi Shah Iran bersama Ayatollah Rohullah Khomeini, bapak pendiri Republik Islam Iran.

You may also like...