Misteri Danarto: Teks dan Proses Produksinya

Gambar terkait

Empat dekade silam, di Bentara Budaya Yogyakarta, Danarto mencoba menjelaskan atau sebisa mungkin memberi gambaran mengapa dalam cerpen-cerpennya kadang darah bertumpahan menjadi latar yang mengerikan.

“Waktu itu saya masih kecil, Belanda datang ke rumah kami dan semua penghuni rumah dibariskan di depan rumah,”kenangnya.”Lalu, saya tidak tahu persis kejadiannya, senapan meletus dan bapak saya (?) jatuh berlumuran darah. Saya sangat ketakutan.”

Godlob sebuah judul cerpen yang mengagetkan pembaca sastra tanah air, menawarkan ‘ketakutan’ itu. Padang, laiknya Kurusetra, banjir darah dan mayat-mayat bertumpangtindih itu menjadi hero. Seorang bapak, menginginkan anaknya menjadi hero seperti itu, dan dia bunuhlah si anak agar menjadi hero. Tetapi Morfologi Dongeng  Vladimir Propp membatalkan dunia hero artifisial itu, lantaran menurut Propp hero asli hanya mungkin ada lantaran ada hero palsu: hero asli versus hero palsu. Laiknya Ayam Jago Panji Laras yang batal memiliki hak suksesi lantaran hero sesungguhnya dalam logika ceritanya adalah Panji Laras, dengan cara semua kepiawaian bersilat dan berbahasa manusia Ayam Jago itu dilucuti.

“Ketika saya mengerjakan taman di sebuah villa, membuat patung, di bilangan daerah pegunungan dan sunyi, tiba-tiba dari punggung gunung di sana saya mendengar tahlil  yang kian lama kian seru dan gemuruh: la illahailallah!,”  lanjutnya di kesempatan yang sama, empat dekade silam.

Tentu tidak dengan sendirinya kita akan menggunakan semua pengalaman riil Danarto untuk memahamkan karya-karya fiksinya. Tetapi, kita dimungkinkan untuk menyebutkan bahwa karya-karya sastra Danarto adalah karya fiksi bersumberkan pengalaman riil. Dengan pemahaman ini orang pun bolehnya mengembara di jagat makna Danarto.

Karena itu dengan amat hati-hati Sapardi Djoko Damono menyebut Danarto mulai dikenal sebagai penulis cerpen sekitar akhir tahun 1960-an akhir ketika majalah Horison belum lama terbit. Karya-karya awal Danarto yang dimuat di Horison, menurut Sapardi, menunjukkan suatu ciri penulisan cerpen yang belum pernah ada sebelumnya dalam khazanah sastra Indonesia.

“Strukturnya jadi sangat unik. saya tidak mengatakan longgar. Yang menjadikan cerita pendek Danarto berharga bukan ceritanya seperti apa, atau tokohnya seperti apa, tapi suasana yang dibangun oleh cerita pendek itu belum pernah ada di dalam cerita pendek Indonesia sebelumnya,” ujar Sapardi.

Keterkejutan masyarakat terhadap cerpen-cerpen Danarto, bahkan ada yang menyebut Danarto seolah menulis dalam keadaan kesurupan. Arif Budiman dalam Horison edisi April 1969 mengungkapkan hal tersebut.

“Saya merasa bahwa cerita-cerita pendek Danarto seakan-akan lahir dalam suatu keadaan ‘trance’. Jadi, bukan karena suatu proses kesadaran yang penuh, di mana si pengarang menguasai benar dirinya dan tahu ke mana dia akan pergi. Memang, cerita itu memberikan banyak hal baru dibandingkan cerita-cerita lain yang pernah ada di Indonesia,” ujarnya.

Kedua tokoh besar dalam dunia kritik sastra ini berada pada pandangan yang ‘sektarian’. Sapardi mendekatinya dengan ancangan struktural, akibatnya yang diperolehnya adalah manquer de sens. Ancangan demikian jika dilakukan pada (karya-karya) Danarto bukan saja menjadi tumpah ruah makna, tetapi makna menjadi sesuatu yang terlanjur hilang di awal karya.

Pandangan yang mestinya agak berbahaya bagi kritik sastra adalah pernyataan Arief Budiman. Karena khas tingkat kesulitan pembacaan karya-karya Danarto, orang pun menyebut proses penulisan karya dalam keadaan kesurupan. Tetapi jika dipahami lebih baik, sepautan dengan latar akademis Arief Budiman, kuliah di Fakultas Psikologi UI, maka sebenarnya dia berbicara antara ketaksadaran dan kesadaran. Pengarang di saat menulis karyanya berada dalam ketaksadaran, sedangkan teks yang diproduksi ketaksadarannya adalah akar kesadaran pengarang.

Realitas yang kita temukan memang memprihatinkan: hingga akhir hayatnya, pendekatan atau pemahaman karya-karya Danarto tidak juga mendekatkan dan memahamkan pembaca dengan karya-karya si pengarang. Meski sebenarnya ada ancangan lain yang belum banyak dikerjakan orang untuk mendekati teks-teks Danarto: kefilsafatan produk sastra. Pada kurun kemunculannya, harus diakui Danarto segaris waktu dengan Iwan Simatupang. Bukan hal aneh jika keduanya bertolak dari tesis insan kamil. Dekade 1960an dalam khazanah sastra Indonesia memang lumayan kaya dan berbeda dengan generasi pengarang-pengarang sebelumnya. Iwan Simatupang dengan pemahaman ketimurannya atas peradaban sastra barat dan Danarto dengan pemahaman tasawufnya atas peradaban peradaban sastra timur. Namun keduanya dipertemukan dalam arus pemikiran yang tengah pasang ombak ketika itu: absurditas.

Pada penulis-penulis besar sastra kontemporer, Danarto dan Iwan Simatupang menjadi bagian terpenting dalam kurun ini, perasaan pada pertanyaan-pertanyaan absurd dan makna kehidupan membebaskan filsuf. Orang juga bisa mengutip perincian Bardamu Celine di Voyage: “Filsuf hanyalah cara lain untuk menjadi takut dan hanya membawa simulacra pengecut. “

Jika para penulis ini memiliki sedikit penghargaan untuk pendekatan filosofis terhadap pertanyaan itu, itu adalah tema yang tidak berhenti mempesona dan membingungkan para filsuf. Albert Camus, mungkin dalam cara yang paling frontal, dengan demikian menegaskan dari awal mitos Sisifus bahwa “hanya ada satu masalah filosofi yang sangat serius: itu adalah bunuh diri”. Dalam cara Pascal, perlindungan terbesar iman yang tipis, Camus menggagalkan apa yang dia anggap sebagai stratagem, atau hiburan, baik teoritis atau praktis, dan yang kita gunakan untuk menemukan makna yang akan melampaui hidup kita. Pembahasan filosofis tentang masalah ini mungkin tidak akan ada habisnya dan pertanyaan tentang ilusi para filsuf itu sendiri tentang masalah itu juga.

Dalam pemahaman ini, kita lebih suka melihat sudut pandang filosofis yang berbeda pada pertanyaan yang absurd daripada mempertanyakan apa yang dibawa oleh teks-teks Danarto itu sendiri untuk pertanyaan ini. Filosofi berjalan melalui konsep, itu “mendefinisikan cara berpikir,”  tetapi sastra membawa kita ke dalam kehidupan. Potret dari kehidupan yang digambarkannya, cara hidup yang dia tangkap adalah, melalui membaca, berbagi. Dalam apa cara untuk menggambarkan situasi atau kehidupan tidak masuk akal mereka dapat memperkaya berbeda, memperluas konsep absurditas Danarto didefinisikan sebagai perasaan bahwa “lahir dari konfrontasi ini antara panggilan manusia dan keheningan tidak masuk akal dunia “? Bagaimana situasi konkret dan sehari-hari yang digambarkan dalam sastra mengarah pada refleksi filosofis tentang apa yang absurd dengan cara yang lebih konseptual? Selain itu, apakah pengalaman-pengalaman absurd yang digambarkan dalam sastra bukanlah sarana yang paling tepat untuk mengingat filsafat terhadap pengalaman konkret yang dibuat manusia di dunia dan memerintahkannya untuk tertarik padanya?

Dari hubungan antara sastra dan absurd, beberapa garis pemikiran bolehnya lahir: apakah kita menemukan teks Danarto dalam timbangan absurd dan darinya kita menemukan karakteristik umum yang tidak masuk akal? Apakah gaya Danarto sendiri hanya merupakan cerminan dari suatu waktu atau sesuatu sepanjang zaman untuk membedakan seorang “penulis yang absurd” dari pengarang lain yang tidak seperti dirinya? Apakah penciptaan sastra itu sendiri suatu cara memberi untuk melihat absurd atau praktik absurd penulis akan menggoda kita untuk membuat karyanya kurang berasa dengan kesemestaan sehari-hari?

Jawaban yang mesti diberikan justru tidak pada esensi pertanyaan-pertanyaan itu sendiri, tetapi justru pada teknik pembacaan atas karya-karya Danarto. Sekurangnya, ada tiga tahapan pembacaan yang harus dilakukan untuk benar-benar bisa menikmati kekontemporeran karya Danarto. Pertama, belajar membaca bahasa dalam teks-teks Danarto. Kedua, belajar membaca makna teks-teks sastra Danarto. Ketiga, belajar memahami bahasa Danarto memberikan makna yang bisa saja tidak sepautan dengan zaman kita.

“Darurat. Mas Danarto ditabrak di Ciputat. Keadaannya kritis. Kini dirawat [di] RS depan UIN. Tak ada identitas. Polisi menghubungi salah satu orang yang ada dalam hp Mas Danarto yaitu Agus Sarjono. Agus Sarjono kini di Bandung. Adakah yang bisa bantu hub[ungi] keluarga Danarto? Keadaannya kritis. Ditunggu polisi. Elza.” Kabar itu ditulis sebagai status di laman Facebook akun Handry Tm. Ya, Danarto, pelukis dan cerpenis yang tinggal sendirian itu kemarin tertabrak motor. Kritis. Selasa malam, pukul 20.54 WIB, ia meninggal dunia di RS Fatmawati, Jakarta.

Muslikh Madiyant

 

You may also like...