Museum Kereta Api Ambarawa: Wisata Edukatif di Semarang

KORANYOGYA – Ambarawa adalah daerah sejuk yang berada di kota Semarang, daerahnya yang sejuk banyak terdapat kebun sayuran dan bunga. Terdapat banyak monumen sejarah di Ambarawa. 

Lorong di museum. (foto: KY/Dea)

Lorong di museum. (foto: KY/Dea)

Di Ambarawa terdapat Monumen Tugu Palagan, dan jika di pertigaan Tugu Palagan belok ke kanan, tidak jauh dari sebelah kanan jalan terdapat Museum Kereta Api Ambarawa. Dulunya adalah sebuah stasiun kereta api, tetapi semenjak gempa akhirnya stasiun ini hanya beroperasi hingga tahun 1970-an saja dan kini berubah menjadi Museum Kereta Api yang dapat dikunjungi oleh masyarakat.

Museum yang dibuka 6 Oktober 1976 ini, tepatnya berada di jalan Stasiun nomor 1 Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Masuk ke museum ini dikenakan tarif Rp10.000 untuk dewasa. Museum ini akan ramai pengunjung apabila hari libur. Banyak yang memanfaatkan momen liburan untuk naik kereta api uap yang masih beroperasi di museum ini sebagai kereta api wisata. Kereta tersebut adalah salah satu dari tiga yang masih ada di dunia yaitu kereta api uap bergerigi dengan lokomotif nomor B2502 dan B2503, dua diantaranya berada di India dan Swiss.

Lokomotif yang dimuseumkan. (foto: KY/Dea)

Lokomotif yang dimuseumkan. (foto: KY/Dea)

Buka pukul 10.00-14.00 WIB dengan harga tiket Rp50.000 PP Ambarawa-Tuntang. Setelah membeli tiket dan mengantri anda baru dapat menaiki kereta tersebut melewati Secang dan Tuntang lalu kembali ke museum yang perjalanannya kira-kira menghabiskan waktu 45-60 menit. Pemandangan yang disajikan pun pemandangan alam yang sangat indah.

Keramaian pengunjung museum. (foto: KY/Dea)

Keramaian pengunjung museum. (foto: KY/Dea)

Terdapat banyak koleksi kereta api, kurang lebih ada 21 kereta api yang berjaya dimasing-masing zamannya dan kini menjadi pajangan, ada pula 3 kereta api aktif yang menjadi kereta wisata. Koleksi-koleksi kereta api tersebut ada dari berbagai negara dan berbagai lokomotif dari seri B, C, D, bahkan CC.

Koleksinya bukan hanya kereta api uap saja, tetapi ada pula; mesin ketik, mesin hitung, mesin pencetak tiket, telepon antik, peralatan telegraf Morse, bel antik, beberapa perabotan, bel dan peluit. Ruangan tiap museum pun dibuka agar masyarakat dapat melihat ruang kerja stasiun pada zamannya dulu. (Dea)

You may also like...

1 Response

  1. 09/03/2016

    […] source: koranyogya […]