Kloter pertama tahanan ini diembarkasi pada Selasa lalu, di bandara Oslo, diangkut sebuah pesawat  Scandinavian Airlines, dengan tujuan Amsterdam. Untuk alasan keamanan, jumlah tahanan yang diekspor tidak disebutkan. Tetapi, sekurang-kurangnya sekitar 242 tahanan Norwegia, akan menjadi penghuni penjara dengan keamanan amat tinggi di  Norgerhaven, Belanda utara. Sebagian para tahanan ini berangkat ke Belanda secara sukarela, sebagian lagi memang tidak punya pilihan.

Ekspor tahanan ini dilakukan lantaran penjara-penjara Norwegia sudah padat. Sekitar 1.100 tahanan menunggu mendapatkan sel, maka ekspor tahanan ke Belanda adalah pilihan. Lantaran sejumlah penjara Belanda kekurangan penghuni. Dari situlah gagasan untuk meminjamkan penjara kepada mereka yang membutuhkan. Sejak tahun 2010, penjara Tilburg, di selatan Belanda, sudah menerima 500 tahanan Belgia. Norwegia adalah negara kedua yang melakukan perjanjian peminjaman penjara dengan pemerintah Belanda. “Sewa” selama 3 tahun, bisa diperpanjang, senilai 25,5 juta euro pertahun.

Dampak minimal dengan lingkungan baru

Di Norgerhaven, sipir atau petugas penjara Belanda akan berada dalam komando tim Norwegia. Marianne Vollan, direktris Administrasi Kerajaan Skandinavia, menjamin bahwa sangat kecil dampak terhadap kehidupan sehari-hari para tahanan.

Mereka yang ditahan di bagian utara Belanda hanya dijauhkan 100 km dari keluarganya. Di Belanda, mereka memiliki hak sama dengan sewaktu di Norwegia. Mereka bisa bekerja, mengikuti kursus, berkomunikasi dengan keluarga lewat Skype,” jelas Marianne Vollan.

Situasi penjara di Norwegia memang sedang tidak menguntungkan. Selain bahwa ruang penjara yang sempit, polisi tidak bisa mengawasi dengan baik para tahanan. Jika ini dipertahankan situasi akan memburuk. Semnatara itu banyak penjara dibangun dari tahun 60an, sebagian besar membutuhkan renovasi.

Alternatifnya memang membiarkan penjara padat penghuni–seperti yang dilakukan Prancis. Tetapi, itu bertentangan dengan tujuan rehabilitasi yang diinginkan oleh Norwegia. Para tahanan yang dikirimkan ke Belanda biasanya sudah mendapatkan remisi beberapa bulan sebelum dibebaskan dan cara ini memberi kesempatan tahanan untuk mempersiapkan diri keluar ke dunia bebas lagi.

Keluarga tahanan menolak

Berhasil meyakinkan Parlemen pada Juni lalu, persetujuan diberikan oleh anggota parlemen dari partai Konservatif fan partai Populis dan hanya didukung oleh anggota parlemen dari Kristen Demokrat. Sementara partai kiri menyebutkan upaya itu terlalu mahal, sdangkan sejumlah besar organisasi yang dimintai pendapat kurang tertarik dan bahkan dinas rahasia Norwegia (PST) mengkhawatirkan para tahanan bisa terimbas radikalisasi penjara Norgerhaven karena sepenuhnya terlepas dari kontrol mereka.

Bahkan asosiasi keluarga tahanan menolak program itu karena hukum menentukan tahanan harus dekat dengan keluarga.”Jika ingin rehabilitasi berhasil, tahanan harus dekat dengan keluarga,”kilah Hanne Hamsund, ketua asosiasi, selain itu untuk mengunjungi tahanan di Belanda keluarga harus mengeluarkan rata-rata 550 euro.

Sedikit kandidatnya

Frode Sulland, ketua pengacara pengadilan meyakinkan program pengiriman tahanan ke Belanda akan susah berhasil. Bahkan para pengacara itu Senin lalu mogok kerja untuk memprotes politik pemerintah. Karena jauh dari tanah air akan mempersulit tahanan mendapatkan bantuan hukum.

Peminat pindah penjara ke luar negeri ini awalnya sedikit jumlahnya. Bahkan dalam penjara suasana menjadi tegang. Bahkan ada yang mencoba bunuh diri, menyerang sipir, jika mereka membahayakan penjara mereka tidak akan dikirim ke Belanda. (KY-05)