Pelajar Bolehnya Unjuk Kamera di FFD 2017

fdd

Istimewa

Film selalui mempunyai caranya sendiri untuk bercerita, banyak hal atau peristiwa yang baru saja kita ketahui dan sadari lewat menonton film. Secara tidak langsung film mengajak kita untuk peduli, aware terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Seperti yang kita tahu ada dua jenis film yakni fiksi dan documenter. Di tahun 2017 ini Festival Film Dokumenter (FFD) kembali digelar dengan menyongsong tema Post Truth. FFD dimulai pada tanggal 9 Desember 2017 dan berakhir pada 15 Desember 2015. Program di FFD juga beragam salah satunya Kompetisi Kategori  Pelajar.

Kamis, 14 Desember 2017, tiga film kategori pelajar diputar di Societet Taman Budaya Yogyakarta. Yaitu ROB yang disutradarai oleh Fatimatuz Zahra dari Pekalongan, Bocah Rapa’i Plok disutradarai oleh Nursalliya dari Aceh dan Plasticoriasis oleh Sapta Oktaviani asal Bali. Selain pemutaran film juga ada sesi tanya jawab dan ketiganya cukup banyak mendapat apresiasi dari penonton. ROB, Bocah Rapa’i Plok dan Plasticoriasis bercerita tentang peristiwa apa yang terjadi di daerah mereka masing-masing.

Dari kisah yang sederhana hingga menjadi masalah yang serius. Walaupun mereka masih menyandang status pelajar, film yang mereka buat patut mendapat applause karena dibungkus dengan matang walaupun masih butuh proses untuk belajar lagi, namun merupakan suatu prestasi dan kebanggan film-film dari pelajar Indonesia bisa masuk nominasi dan diputar di ajang FFD yang merupakan festival film dokumenter pertama di Indonesia dan Asia Tenggara, sejak tahun 2002.

Foto Koran Yogya.

Istimewa

Film garapan anak bangsa kini tidak bisa dianggap sepele, pasalnya selain masuk di nominasi kompetisi kategori pelajar FFD, salah satu dari mereka juga sudah pernah meraih juara di Denpasar Film Festival pada bulan September 2017 lalu. Yakni film ROB garapan pelajar SMKN 2 Pekalongan jurusan broadcasting, Fatimatuz Zahra, yang mendapat Dokumenter Terbaik 2 di festival tersebut. ROB, film berduarsi 17 menit ini menceritakan kehidupan warga Pekalongan, dusun Karangjompo yang memprihatinkan. Keadaan banjir yang diakibatkan oleh tanggul yang jebol selama hampir 3 tahun tidak pernah surut yang menyebabkan 4 desa di kabupaten pekalongan tergenang air. Saat diwawancarai, Fatimatuz Zahra juga menceritakan keadaan Dusun Karangjompo saat ini yang juga masih tergenang air

“Ketika mendapat penghargaan di Denpasar, juga disiarkan di stasiun tv lokal jadi mungkin pemerintah tahu dan merasa tersindir jadi waktu itu sempat diperbaiki tapi jebol lagi.” Ungkapnya. Lambannya bantuan dari pemerintah dan perasaan iba kepada temannya yang mengalami kondisi tersebut membuat fatimatuz Zahra tergerak untuk membuat film documenter ROB ini. Ia juga bercerita bahwa daerah ia tinggal juga menerima dampak akibat tanggul yang jebol ini, namun tidak separah dusun karang jompo.

Dengan memakan waktu kurang lebih 1,5 bulan dan beranggotakan 8 kru namun proses pembuatannya juga tidak mudah selain kondisi air yang menggenang dimana mana, ia sempat kesulitan dalam mengumpulkan data.

Foto Karisa/KY

“Kesulitannya ketika warga mau diwawancara tapi tidak mau diambil gambarnya, dan mewawancarai kantor pemerintahan daerah setempat karena sering dilempar-lempar. Tapi ketika saya jelaskan lagi, akhirnya mereka mau.” Paparnya. Fatimatuz Zahra juga mengungkapkan bahwa film ini juga merupakan tugas dari tempat PKL nya saat kelas 2 SMK di Sangkanparan Cilacap. Kemudian film ini direkomendasikan oleh produsernya, dan akhirnya berhasil masuk ke ajang film festival. Dengan masuknya film ROB ke dalam kompetisi ini Fatimatuz berharap dengan sederhana semoga masalah tersebut segera ditangani.

Film garapan anak bangsa kini tidak boleh dianggap remeh, lewat festival film seperti ini banyak pula remaja yang semakin terpacu untuk menonton dan belajar membuat film juga belajar melalui film. Acara seperti ini patut dipertahankan karena dapat meningkatkan minat bukan hanya minat penonton, namun juga mereka siapapun yang ingin bercerita melalui film, serta dapat meningkatkan bakat dan prestasi sineas Indonesia dalam bidang perfilman. Pada tahun ini FFD mempunya 6 film kategori kompetisi pelajar, dari 24 film yang masuk di kategori tersebut.

You may also like...