Perempuan Hebat di Bawah Jembatan Janti

IMG_8211

Koran Yogya— Yogya merupakan kota yang terkenal dengan budaya dan wisatanya. Salah satu yang paling menonjol yaitu kebudayaan dan wisata kulinernya. Terdapat berbagai macam tempat makan dari yang harganya sangat mahal hingga harga murah meriah di tawarkan disini. Dan jenisnya pun bervariasi, ada yang menjual makanan ringan, makanan barat, makanan untuk kalangan bawah,yang bisa disantap orang-orang Indonesia.

Mak, sapaan pelanggan yang biasa datang dan makan di bawah jembatan Janti adalah seorang pengusaha warung makan khas Indonesia. Mak menjual makanan berat seperti nasi, ikan bandeng, sayur tahu tempe, opor ayam, sambal, kerupuk dan yang lainnya. Tidak hanya menjual makanan saja, di warungnya mak juga menjual rokok, berbagai macam minuman botol hingga kemasan, peralatan mandi seperti odol, sikat gigi dan sabun, mie instan, gula, garam. Di warung yang ukurannya kecil dan sangat sederhana mak berjualan sendirian.

Warung Mak dibuka setiap hari, dari jam 19.00,  Mak mulai membuka warung kecilnya, laiknya lepau, menyediakan  makanan yang dimasak sendiri. Warung makan Mak sangat laris, tidak pernah ada sisa. Rata-rata yang datang ke warung mak adalah laki-laki dari orang tua hingga anak muda. Emak menutup warungnya jika makanan yang ia jual sudah habis terjual, jika belum habis mak tidak akan menutup warungnya. Sering kali mak menutup warungnya ketika azan subuh mengumandang.

Saya sering kesini bukan karena harga yang ditawarkan di warung mak sangat murah, tetapi lokasi tempatnya sangat nyaman dan strategis untuk bercengkrama dengan kerabat atau sekedar melepas penat sehabis kerja,”kata Joko, 35 tahun, pelanggan kudapan Mak.

Mak memiliki rumah di daerah Magelang dekat dengan Candi Borobudur, tetapi mak lebih memilih tinggal dan berjualan di Jogja tepatnya di bawah jembatan janti. Rumahnya di Magelang dibiarkan kosong tak berpenghuni. Ia memutuskan untuk tinggal sendiri di warung sederhanannya. Sebenarnya ia memiliki satu anak, tetapi anaknya memilih merantau ke Makasar.

Dari dulu mak sudah terbiasa hidup sendiri. Ia mecari uang demi keberlangsungan hidupnya. Hingga saat ini Mak tidak pernah berjumpa dengan anak semata wayangnya itu dan menjalani hidup tanpa keluarga disampingnya. (DMA)

You may also like...