Piala Afrika 2019: Pendukung Aljazair Merayakan Kemenangan di Seantero Prancis

Les supporters de l'Algerie se sont tres vite rendus sur les Champs-Elysees.

Para pendukung Aljazair dengan cepat menyerbu ke Champs-Elysées. © THOMAS SAMSON / AF

Di seantero Prancis, para pendukung Aljazair menganak sungai memenuhi jalan-jalan. Langkah-langkah keamanan telah diambil oleh pemerintah untuk mencegah kerusuhan yang terjadi pada saat timnas Aljazair lolos ke final.

Setelah 29 tahun kemenangan terakhir Aljazair di Piala Afrika, para pendukung timnas Aljazairtelah memutuskan untuk merayakan raihan gelar mereka. Jalanan penuh asa[, riuh oleh klakson, mesin-mesin kendaraan menderu dan kerumunan orang bergembira: di jalan-jalan Marseille, Lyon, Paris, Lille atau Strasbourg, mereka merayakan kemenangan 1-0 mereka atas Senegal. Sepanjang pertandingan, Canebière dan arteri di dekatnya, di jantung pusat kota Marseille yang populer, penuh sesak. Di rambu-rambu jalan, kontainer sampah, di semua trotoar, para penggemar Aljazair, sebagian besar, meskipun ada beberapa penggemar Senegal, berkerumun untuk mengikuti jalan pertandingan di layar raksasa yang dirilis oleh para pemilik kafe di seantero Prancis.

Image result for CAN 2019 : les Algériens dans la rue pour célébrer leur victoire

AFP

Begitu peluit akhir, wargaPrancis asal Aljazair menerobod barisan polisi yang dipasangi pagar, gelombang manusia mulai menyapu Vieux Port, tempat peluncurkan kembang api hari kemerdekaan Prancis14 Juli telah dilarang untuk pendukung Aljazair selama setengah jam saat mengalahkan Nigeria di semi final. Marseille tampaknya terbawa kegilaan, suara sepeda motor dan skuter, petasan dan klakson, tenggelam dalam asap, “pecah” . Suasana ini meledak beberapa menit setelah pertandingan berakhir, tetap meriah, beberapa anak muda bahkan berani berselfie dengan para polisi.

“Kami yakin akan menang”
Beberapa ratus kilometer, pemandangan yang sama terulang di Lyon. Peluit berakhir, di quartier Guillotière, hiruk pikuk oleh ledakan petasan, kembang api dan asap. Pengendara skuter mendecitkan ban-ban mereka dan disambut sorak-sorai kerumunan. Banyak telepon yang menyala mengabadikan acara tersebut.

“Aku senang, jantungku berdetak kencang, itu tidak terduga, kami yakin akan menang,” kata Ariane, bersorak berkalung bendera Aljazairnya, sebelum berlari ke tempat Gabriel Péri, pusat perayaan.

Image result for CAN 2019 : les Algériens dans la rue pour célébrer leur victoire

AFP

“Normal orang berpesta”
Di Champs-Élysées di Paris, di akhir pertandingan, sekelompok pendukung mendarat di “jalan paling indah di dunia”, tiba-tiba seperti gol yang menggedor pemain Senegal di menit-menit pertama pertandingan. Di depan kereta bawah tanah, Bianca, Imene dan Farrah menyaksikan seluruh pertandingan di ponsel mereka, sudah diposisikan untuk berpesta. “Kami mempercayai para pemain kami!” Seru Bianca, 20 tahun. “Kami menang, aku mencintai negaraku, ya Allah, itu indah!” mengagumi gadis itu.

Bahkan lebih jauh ke utara dari Aljazair, kegembiraannya mirip dengan Metz dan Strasbourg, atau Lille: di ibu kota Flanders, Belgia, di mana-mana menimbulkan keresahan, “Satu, dua, tiga, hidup Aljazair!” , disertai dengan teriakan gembira, parade klakson, suara petasan tapi juga banyak kembang api kembang api dari berbagai tempat.

Otoritas cemas
Di sore hari, penggemar tidak selalu disambut di mana-mana pada Jumat malam. Di pelabuhan Vieux-Port Marseille, layar raksasa yang biasa digunakan untuk mengikuti pertandingan absen . “Itu terlalu berantakan,” kata pramusaji tentang “pub” Inggris di mana penggemar sepak bola biasanya meramaikan bola dengan minum bir. Demikian pula para pendukung Aljazair dilarang Jumat malam di Promenade des Anglais di Nice atau Croisette di Cannes.

Terutama pasca-pertandingan inilah yang dikhawatirkan pihak berwenang, setelah insiden yang memicu kegembiraan pendukung setelah kemenangan Aljazair di perempat final dan semi-final, khususnya di Montpellier, dengan kematian seorang ibu yang ditabrak oleh seorang pengemudi.

Di Saint-Etienne, selama paruh waktu, Sofiane, tiga puluh tahun, baju tim Aljazair di pundak, mengundang media untuk “tidak memperbesar insiden kecil” yang bisa terjadi malam itu. “Sayangnya, selalu ada beberapa orang muda yang melakukan hal-hal bodoh, dan ketika itu terjadi, mereka membuat kita malu,” katanya. “Kami tidak meminta dilahirkan di Prancis, dan bahkan jika kami tinggal di sini, Aljazair adalah negara kedua kami, jadi wajar jika berpesta ketika memenangkan kompetisi besar. Prancis memenangkan Piala Dunia, kami juga merayakannya, “simpulnya.

You may also like...