Pranto Penjual Opak Ketela Setiap Hari Berjalan Kaki 30 Km

KORAN YOGYA—Grastronomi menjadi elemen penting untuk mengenal budaya dan gaya hidup suatu lingkungan manusia. Di banyak negara yang pariwisatanya sudah berwujud industri, gastronomi merupakan ekspresi pemuliaan budaya dan tradisi, gaya hidup yng sehat, otentisitas, durabilitas, dan upaya-upaya mengubah lingkungan melalui pengolahan penganan.  Namun, di negara seperti Indonesia, pengolahan penganan tradisional adalah upaya mempromosikan pertumbuhan ekonomi lokal, mengimplikasikan kegiatan profesional pelbagai sektor dan membuka peluang menuju sektor primer.

Pranto, kakek dari Blora penjaja opak ketela (KY)

Pranto, kakek dari Blora penjaja opak ketela (KY)

Rasa-rasanya pernyataan terakhir itulah kita menemukan seorang Pranto, penjaja opak singkong asal Blora. Lelaki yang sudah bergelar kakek ini, usia 60 tahu, masih gagah dan liat bagai gerabah yang kokoh lantaran terbikin dari tanah lempung pilihan dan kulitnya cokelat dibakar oleh matahari tropis. Matanya tidak menunjukkan adanya keredupan harapan. Bahkan bibirnya yang pantang merengut, selalu mengembangkan senyuman keberanian: berani beropini bahwa hari ini dan besok pastilah ada sesuap nasi baginya.

Saya menjajakan opak ketela ini sedari zaman Pak Harto,”ungkapnya pada KY di pinggir jalan di bilangan SEKIP UGM mendekati siang bolong.”Selama itu pula saya tidak pernah ditinggalkan rezeki. Anak saya 3 orang, semua sudah menika dan sudah beranak pinak. Saya punya cucu 6 orang. Dan saya tidak surut berjualan opak ketela dari hari ke hari.”

Manakala kita melewati jalan beraspal dengan sepeda motor atau mobil, akan kerap kita jumpai orang-orang semacam Pranto. Dan akan terbit rasa iba melihat seorang lelaki berumur duduk di pinggir jalan ‘ditemani’ kantung plastik besar berisikan kemasan-kemasan opak ketela yang sudah digoreng. Bagaimana mungkin di zaman seperti ini masih ada orang menggantungkan hidup pada opak ketela, penganan yang anak-anak kecil pun jarang mengenali, dan orang-orang desa sudah melupakan opak ketela sebagai kosa gastronomi desa pinggiran? Dan pertanyaan itu mungkin membelit hati sebuah sedan Brio merah yang lewat di depan Pranto. Mobil itu berhenti beberapa meter dari Pranto, kemudian atret mendekati Pranto. Dengan ramah Pranto mendekati, satu bungkus opak pun diulungkan ke dalam mobil dan Pranto mengantungi Rp 10.000.

Meski sudah berusia 60 tahun, berjalan kaki 30 km, kakek ini berpuasa di bulan ramadhan (KY)

Meski sudah berusia 60 tahun, berjalan kaki 30 km, kakek ini berpuasa di bulan ramadhan (KY)

Di Yogya ini saya kost di daerah Prambanan dengan 6 orang kawan. Semua dari Blora,”lanjutnya bercerita.”Dalam sehari saya bisa membawa 150 kemasan opak berisi 20 keping. Saya dan kawan-kawan sering kerja sama. Di selatan sana itu ada kawan yang jualan seperti saya.”KY memang sempat mendapati seorang penjaja opak lain di depan kompleks Flat dosen UGM di SEKIP. Dan seperti Pranto, penjaja yang bernaung di bawah rindangnya pohon itu berdiam diri ditemani kantung plastik opak ketela dan memercayakan rezeki datang menghampiri.

Pagi hari saya naik bus TransJogja ke daerah Pakem,”dia memulai lagi bercerita.”Saya turun di Pakem dan berjualan di sana. Lalu saya jalan kaki sepanjang jalan Kaliurang mencari pembeli. Lalu tengah hari saya sampai di UGM dan duduk menunggu pembeli. Lihat, jualan saya sudah tinggal separuh kurang. Sepanjang jalan Kaliurang saya sudah dapat pembeli-pembeli. Meski saya sudah kakek-kakek, saya masih kuat jalan kaki sejauh 30 km.”

Jika opaknya tidak habis hari itu. Menjelang sore dia akan pergi ke mini-mini market yang bertebaran di jalan-jalan sekitar Yogyakarta. Di sana dia menunggu pembeli  hingga pukul 21 malam. Dan menjelang pk 22, dia naik bus TransJogja ke Prambanan. Kerap dengan dagangan habis atau masih bersisa.

Praktik ekonomi yang dikerjakan Pranto terbilang lugu dan akan dibantah oleh teori-teori ekonomi modern. Tidak ada pengembangan kualitas produksi, tidak ada biaya promosi, tidak ada upaya mengembangkan jalur distribusi. Yang dilakukannya hanya menerima posisi. Ya, dia memang sekedar menerima opak ketela mentah yang dikirim dari Blora. Begitu sampai ke tangannya, dia akan berhitung berapa hari dia akan menjajakan opaknya. Barulah kemudian menggoreng sendiri opak-opak mentah di kostnya. Dan dia berhitung lagi hari ini akan membawa berapa kemasan opak berisi 20 keping seharga Rp 10.000.

Kalau ditanya untung, saya ndak mengerti,”kilahnya ketika ditanya berapa laba yang dikantunginya.” Yang jelas dari 150 kemasan bisa menjadi 200 atau 250 kemasan opak lagi. Harga minyak goreng mahal. Sekarang kayu bakar juga harus beli.  Saya juga harus bayar kost Rp 150.000 per bulan. Kalau opak mentahnya sudah mulai mau habis, saya telepon ke Blora untuk dikirimi lagi.”

Sebagai manusia Jawa, Pranto tentu sangat terikat kepada keluarga. Manakala dia kangen keluarga, dia cukup naik bus antarkota dan bertemu dengan isterinya yang juga sudah nenek-nenek. Setelah semua adat dirasanya cukup, dia akan kembali ke Yogyakarta untuk menjajakan opak ketelanya. (KY-adi)

You may also like...