Raif Badawi Raih Nominasi Nobel Perdamaian 2015

Bloger Saudi aRABIA, Raif Badawi, yang dijatuhi hukuman kurangan oleh pengadilan Riyad10 tahun dan 1000 kali dera cambuk, untuk tuduhan menghina Islam, hari ini dinyatakan menjadi salah seorang yang berhak dicalonkan sebagai peraih Anugerah Nobel Perdamaian 2015.

Koranyogya.Tekanan dunia untuk membebaskan Raif Badawi dari semua hukuman itu, dari hari ke hari terus menjulang. Lebih dari satu juta orang telah menandatangani   petisi Amnesty International untuk menghentikan siksaan fisik dan mental  Raif Badawi.
Sejak kemangkatan Raja Abdullah, Raja Salman sebagai penggantinya sudah menunjukkan sikap yang melunak dengan sejumlah tahanan , di antaranya adalah kawan seperjuangan Raif dalam mendirikan web yang dinyatakan sebagai penghina Islam. Kawan Raif itu adalah Suad al-Shammari, yang sama-sama mendirikan situs intenet dengan Raif. Barat–Amerika, Swedia, Kanada, dan UniEropa–melihat pembebasan ini suatu pertanda baik bagi kebebasan berekspesi di Arab Saudi. Bahkan Suad tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa penolakan Arab Saudi terhadap orang-orang sepertinya tak bisa dilakukan secara sembunyi. Lantaran para bloger lebih optimis dan penuh harapan.
Raif Badawi dan ketiga puterinya (DR)

Raif Badawi dan ketiga puterinya (DR)

Mengapa demikian? Karena tekanan kini sudah berubah wajah. Sekarang, tekanan ini menjadi lebih simbolis. Lelaki muda berusia 31 tahun itu, ayah tiga orang puteri, dipenjarakan karena mengajak warga masyarakat untuk berpikir kritis dalam menjalankan agama sehari-hari dan dalam masyarakat–masuk nominasi sebagai calon penerima Anugerah Nobel Perdamaian 2015. Untuk nominasi ini Raif Badawi akan ‘bersaing’ dengan Edward Snowden, Paus Fransiskus, dokter Kongo Denis Mukwege, relawan yang merawat para perempuan korban kekerasan seks. Dan nominasi ini Raif dicalonkan bersama pengacara sekaligus iparnya, Walid Abul Khair, militan hakasasi manusia yang juga dipenjarakan karena membela Raif.

“Dia bisa mati kaget ketika Anugerah Nobel diumumkan”

Gagasan nominasi Raif berangkat dari ketika melihat para pemimpin dunia melayat Raja Abdullah yang meninggal–dan para pemimpin dunia yang sama, dua minggu sebelumnya, melakukan aksi jalan damai di Paris. Di balik gagasan ini ada dua orang: anggota parlemen Norwegia, Karin Andersen,  dan seorang anggota parlemen lainnya.

“Dia berjuang untuk prinsip-prinsip perdamaian, hakasasi manusia, demokrasi, dan kebebasan berekspresi. Tidak akan ada perdamaian abadi tanpa itu,”kliah Karin.”Saya merasa malu dan inilah saatnya untuk menominasikan kedua militan hakasasi manusia itu dan pejuang kebebasan berekspresi di Arab Saudi. Saya berharap Raif bebas lebih awal. Jika dia masih terus dalam tahanan dan masih menderita cambukan, dia akan mati ketika pemenang Nobel Perdamaian diumumkan.”

Maksudnya, pengumuman pemenang Nobel dilakukan pada November 2015. Jika Raif masih di penjara hingga November, mungkin tubuhnya sudah rusak oleh deraan cambuk.

You may also like...

Leave a Reply