Ruang Seni Rupa ‘Suara 3×4 m’: Melihat Ke Luar Menilik Ke Dalam

Lima seniman muda peserta program residensi Seniman Pascaterampil menuangkan gagasannya dalam pameran Ruang Seni Rupa yang berjudul ‘Suara 3×4 m’. Melalui pameran ini, para seniman menarasikan berbagai peristiwa semasa pandemi Covid-19 yang berdaya refleksi dan meminta perhatian, salah satunya terkait kesehatan mental.

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) mempersembahkan Ruang Seni Rupa (RSR) edisi perdana di tahun 2020 dalam format alih wahana pameran yaitu online exhibition. Pameran pada ‘tembok’ digital menjadi salah satu bentuk presentasi yang paling ‘mendekatkan’ sebagai jembatan penonton menikmati pameran seperti ‘biasanya’ di masa pandemi saat ini. Pada pameran ‘Suara 3×4 m’ kali ini, susunan narasi, potret ruangan, dan wicara seniman yang dihadirkan pada video alih wahana ruang pamer, berdiri sebagai pemantik ingatan dan pengalaman audiens menikmati sebuah pameran. Jika biasanya yang kita banyak jumpai adalah instalasi di ruang-ruang galeri, kehadiran website ruangsenirupa.or.id berlaku sebagai ‘tembok’ pemajangan karya seniman.

Seniman yang terlibat dalam pameran kali ini merupakan peserta program residensi Seniman Pascaterampil PSBK 2020, mereka diantaranya Chaerus Sabry (seni teater) dari Bulukumba, Chairol Imam (seni rupa) dari Surakarta, Egi Adrice (seni musik) dari Indramayu, M.Y.A.Rozzaq (seni rupa) dari Yogyakarta, dan Teguh Hadiyanto (seni rupa) dari Jakarta. Kelima seniman yang telah menjajaki kolaborasi multidisplin seni pada persembahan pertunjukan Jagongan Wagen edisi April lalu, kini berkesempatan untuk saling bertukar pengetahuan dalam kolaborasi penciptaan dan presentasi karya seni rupa.

Pameran ‘Suara 3×4 m’ yang berlangsung di ruangsenirupa.psbk.or.id mulai dari 7 Juli hingga 10 Agustus ini menjadi usaha seniman untuk kembali menilik ke dalam, merekam ingatan atas perjumpaanperjumpaan personal yang mereka temui semasa pandemi. “Pada pameran kali ini, saya mengangkat tema tentang praktik self-esteem yang dipicu oleh kondisi pandemi. Bagi saya tema ini menarik untuk diangkat mengingat term kesehatan mental menjadi salah satu yang paling penting untuk diperhatikan akibat pandemi Covid-19 ini.” terang Chairol Imam atas karya video performance art yang berjudul ‘Pojok Angka & Aksara’. Seniman lainnya menampilkan komik strip 3 seri (Bucin, Gabut, Sepaneng) berjudul ‘Tidak Ke Mana-Mana’ karya Chaerus Sabry, video art berjudul ‘Tanpa Batas’ karya Egi Adrice, video art 3 seri (Retrofilia, An Sich, Esoteris) berjudul ‘Baid-Bain (yang jauh dan yang nyata’ karta M.Y.A. Rozzaq, dan augmented reality berbasis web (Bagian 1, Bagian 2) berjudul ‘Pie Kabare? Iseh Penak Di Rumah Ora?’ karya Teguh Hadiyanto.

Peralihan wahana ruang pameran tak hanya memindahkan ruang pamer karya ke platform digital, tetapi juga turut mentransformasi desain kolaborasi penciptaan seniman, desain kolaborasi penyelenggara pameran dengan pelaku kreatif lainnya, serta desain fasilitasi masyarakat melalui karya seni. Proses produksi video dan kehadiran website ini membuktikan bagaimana ekosistem seni-budaya bertarung dengan keadaan yang tidak ‘biasanya’. Menemukan strategi-strategi kreatif untuk dapat menghadirkan seni yang berkualitas di tengah-tengah ribuan aneka ‘produk konsumsi digital’ masyarakat lainnya.

You may also like...