“Sedekah Seribu Tumpeng Pantai Kuwaru” : Menandai Migrasi Pariwisata Pantai Menuju Pariwisata Berkelanjutan

Foto Koran Yogya.

Foto Agil/KY

Catatan Muslikh Madiyant

Sepantasnya gerakan budaya masyarakat dusun Kuwaru ini, melalui Festival “Sedekah Seribu Tumpeng” di pantai Kuwaru, harus menjadi catatan tersendiri bagi dunia pariwisata Indonesia. Festival Seribu Tumpeng itu memang bukan tradisi ritual, itu kebaruan yang harus dibukukan, tetapi suatu aksi budaya aktor lokal (masyarakat pariwisata Kuwaru). Bahwa ketika alam mengubah wajahnya, maka manusia pun harus memainkan irama yang sama: mengubah paradigma bahwa alam tidak pernah terbarukan, tetapi manusialah yang terbarukan—utamanya di dunia pariwisata berkelanjutan.

Jika dihitung secara ‘awangan’, pariwisata pantai (le tourisme littoral) Indonesia akan membentang sepanjang hampir jutaan kilometer. Ada pantai yang mengampu laut Jawa, laut Cina Selatan, dan yang terpanjang tentunya pantai yang mengampu Samudera India—yang membentang dari Sumatera sampai dengan NTT. Dengan panjang pantai itu maka ruang pulau menyajikan penikmatan gambar yang menarik, antara sensualitas dan keperawanan, yang fondasinya diletakkan selama berabad-abad yang lalu. Dalam hal ini, ruang pulau ini, dan terutama pulau tropis, memiliki keunggulan komparatif yang tak terbantahkan. Dari kontemplasi hingga konsumsi, aktivitas menyenangkan yang berkaitan dengan kedekatan laut dan pantai tetap menjadi yang paling populer di antaranya berenang, relaksasi (bersentuhan dengan pasir dan udara bergaram) atau latihan olah raga air dan rekreasi yang baru. Dan harus diakui, pantai Indonesia dewasa ini adalah salah satu sektor mayor ekonomi pariwisata dan destinasi pertama wisata. Sekurang-kurangnya 99% orang Indonesia pernah pergi ke pantai, meski itu hanya sekali dalam hidupnya.

Foto Koran Yogya.

Foto Agil/KY

Tetapi, persoalannya, sebagian pantai Yogyakarta yang mengampu langsung Samudera India, berada dalam pengaruh sepenuhnya perilaku samudera. Maka jika, dalam catatan sejarawan, hunian prasejarah dari pantai Pacitan sampai dengan pantai Parangkusumo hilang di abad-abad kemudian, itu karena alam berubah. Parangkusumo yang dulunya adalah pabrik garam, kini tidak berjejak sama sekali. Dan itulah yang terjadi dengan pantai Kuwaru, yang pada beberapa tahun silam adalah destinasi pariwisata pantai yang sangat ramai, tiba-tiba saja sunyi senyap ketika pantai itu mengalami abrasi. Aktor profesional pun (kelompok pengusaha pariwisata), yang dulunya petani atau lainnya, mau tidak mau harus surut ke belakang kembali ke daratan, sebagai petani yang utuh atau sebagai profesional di bidang lainnya. Meski tetap ada yang tetap dipertahankan: kehidupan nelayan.

 

Pariwisata memang hanya akan berakhir oleh perang dan bencana alam, kini ditambah dengan terorisme. Pada kasus Pantai Kuwaru, bencana berupa abrasi laut yang melenyapkan sekian kilometer pantai indah Kuwaru, menyurutkan kunjungan. Karena bentangan cemara laut dan daratannya menjadi begitu pendek. Langsung berhadapan dengan tubir laut yang menderu dan berbahaya buat pengunjung yang ingin berenang.

Pada situasi itulah warga Kuwaru mencoba menyiasati nasib dengan mengubah paradigma. Jika dulu kegiatan pariwisata Kuwaru sepenuhnya ada di pantai, maka kini aktivitas itu akan dikembangkan hingga dusun Kuwaru, artinya wisata berbasis budaya. Kesepakatan pun dicapai antarwarga dengan pengurus pariwisata Kuwaru dan kelompok kegiatan Pantai Kuwaru. Dalam geliat aktor lokal yang tidak  ingin menyerah ini, tersebutlah Kristya Bintara, ketua Forkom Desa Wisata Bantul. Sesuai amanahnya sebagai ketua Forkom, Kristya Bintara mendampingi masyarakat Kuwaru untuk bangkit dari keterpurukan aktivitas wisata mereka. Sebagai ketua Forkom, Kristya memahami benar duduk masalah geowisata Bantul. Karena itu, menurutnya, tidak lagi niscaya untuk merenovasi alam yang sudah berubah, tetapi manusianyalah yang harus diubah paradigmanya.

“Dengan acara budaya Sedekah Seribu Tumpeng ini, masyarakat wisata Kuwaru me-rebranding kembali situsnya yang rusak, tetapi destinasi wisatanya tidak mengalami apa pun,”jelasnya.” Artinya begini, pariwisata pantai memberikan kesempatan pengunjung berkontemplasi dengan kebesaran dan keindahan alamnya. Dengan mengembangkan destinasi ke daratan, maka teritori wisata Kuwaru sekarang bukan hanya pantai, tetapi juga dusunnya yang masih asri. Pengunjung pun masih mungkin melakukan kontemplasi, yakni memahami bagaimana warga Kuwaru memandang alam sekitar pedusunan sebagai kekayaan yang berkelanjutan.”

Di pihak lain, Sudaryani Nurwati, selaku ketua pelaksana Sedekah Seribu Tumpeng di Pantai Kuwaru, merangkai rantai semangat di kalangan masyarakat Kuwaru. Menurutnya, menyerah pada abrasi adalah mengaku kalah pada nasib yang bisa diubah. Semangat ini kelak menciptakan bobot nilai Kuwaru sebagai teritori sebuah destinasi. Ada sejumlah catatan untuk itu. Warga dusun Kuwaru yang terdiri dari 6 rukun tetangga (RT) tanpa mengeluh menyingsingkan lengan untuk berbagi membuat 1000 tumpeng yang diwadahkan dalm sarang (anyaman daun kepala yang khas).

“Masyarakat membagi sendiri kekuatannya, sehingga disepakati masing-masing RT membuat 170 tumpeng sarang,”kata Sudaryani.” Ini mengharukan buat saya. Dengan dana terbatas, masyarakat melengkapkan seribu tumpeng. Dan semestinya masyarakat harus mengeluarkan dana tambah dari kocek masing-masing. Yang membuat saya semakin bangga dan haru adalah kirab Sedekah Seribu Tumpeng ini didukung dengan entusias oleh semua lapis masyarakat: dari generasi tua, muda, dan anak-anak. Tidak ada yang menghalangi, karena mereka sadar bahwa yang kita lakukan ini adalah membangun desa sendiri, bukan desa orang lain. Ini hebat. Saya mengapresiasi pada totalitas mereka,”lanjutnya.

Kirab budaya “Sedekah Seribu Tumpeng” memang menjadi atraksi budaya baru bagi masyarakat Kuwaru. Sejak pagi hari semua lapis masyarakat sudah berdandan cantik dan gagah. Anak-anak mengenakan seragam SD atau mengenakan seragam pesantren untuk memainkan hadroh. Kaum muda menyiapkan diri dengan atraksi tari khas modern Kuwaru. Kaum lansia mengenakan pakaian olah raga. Kaum santri dan agamawan mengenakan baju koko atau kelengkapkan ibadah. Kaum perempuan mengenakan seragam RT masing-masing dan menggendong tumpeng dalam sarang. Mereka ini kemudian berbaris dalam larik warna-warni¬† mengelilingi dusun Kuwaru menuju Pantai Kuwaru, sembari ditingkahi tetabuhan masing-masing bregada.

Tiba di Pantai Kuwaru, kirab budaya Sedekah Seribu Tumpeng ini diterima oleh perangkat kelurahan, kecamatan, dan wakil Bupati Kabupaten Bantul. Dan di pantai Kuwaru pengunjung sudah meluber laiknya rumput yang menghijau di musim hujan. Seribu tumpeng itu pun dibagikan secara cuma-cuma kepada pengunjung.

You may also like...