Senjata Pulpen atau Cangkul?

Koran Yogya – Desa Kedung Miri yang terletak di Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul merupakan sebuah desa yang dikelilingi tebing tinggi dan terletak dipinggir sungai Oyo. Di desa ini terdapat sebuah sekolah tingkat Sekolah Dasar, yaitu SD Kedung Miri. Berada tepat bersebelahan dengan masjid kecil dipinggir sawah, SD ini cukup terawat dengan sarana dan prasarana yang memadai. Ada perpustakaan, ruang guru, lapangan untuk upacara, 6 buah kelas, tiang bendera dan sebuah tempat untuk menempel majalah dinding dan hasil karya dari siswa-siswi SD. Jumlah murid sekolah ini bisa dibilang sedikit, dari kelas 1-6 hanya ada 59 anak.

Sekolah ini mendapat bantuan berupa materi dari AMWAY Jakarta, sehingga semua murid yang bersekolah disini tidak dipungut biaya apa pun. Mulai dari seragam sekolah, sepatu, buku dan alat tulis untuk murid-murid di desa Kedung Miri sudah disiapkan.

Terdapat 10 guru, 4 orang sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil dan 6 lainnya merupakan guru honorer. Ibu Sunarsih, Kepala Sekolah SD Kedung Miri yang berjuang mengubah paradigma orangtua dan anak-anak di desa Kedung Miri bahwa pendidikan merupakan hal yang signifikan.

Hampir semua daerah dekat desa Kedung Miri sudah disambanginya. Beliau sengaja berkunjung ke rumah-rumah warga yang mempunyai anak belum sekolah dan mengajak untuk mau bersekolah. Mengubah paradigma orang tua tentang pentingnya pendidikan karena kesadaran mereka tentang pendidikan masih sangat kurang dan masih memikirkan masalah biaya serta masalah letak rumah mereka yang agak jauh dari sekolah, padahal fasilitas untuk bersekolah sudah ada. Para warga masih berpikir jika mereka mempunyai uang, uang tersebut lebih digunakan untuk kebutuhan yang lebih penting, seperti membeli kendaraan terlebih dahulu daripada bersekolah supaya kemudian para orangtua bisa mengantar anak-anak mereka pergi ke sekolah yang letaknya jauh dari rumah.

Anak-anak SD Kedung Miri sedang belajar tari (Foto:KY/Aik)

Anak-anak SD Kedung Miri sedang belajar tari (Foto:KY/Aik)

Jika ditanya soal cita-cita, anak- anak didesa ini bercita-cita menjadi petani, seperti orang tua mereka.

Ibu Sunarsih merupakan seorang pahlawan. Beliau berjuang untuk mengubah pemikiran para orangtua dan anak-anak di desa ini bahwa dengan menjadi orang yang berpendidikan akan mudah dalam mencari pekerjaan. Beliau memberi pengertian dengan kata- kata “memilih senjata pulpen atau cangkul”.

Senjata pulpen, begitulah beliau mengibaratkan. Pulpenlah yang digunakan untuk menulis, mengerjakan soal, dan mengerjakan hal lainnya yang dilakukan disekolah. Dengan pulpen kita tidak perlu berpanas-panasan di sawah, merasakan lelah, basah kuyub terkena hujan, tinggal duduk saja dan gaji yang didapat banyak. Berbeda dengan senjata cangkul, yaitu bertani. Mencangkul sawah dan merasakan terkena sengatan matahari dan dinginnya hujan, lelah dan hasilnya tidak seberapa. Artinya, dengan menjadi orang yang berpendidikan kita bisa menjadi apa saja karena kita mempelajari banyak hal dan memperoleh banyak ilmu.

Usaha Ibu Sunarsih sudah membuahkan hasil. Ada seorang siswa kelas 6 SD Kedung Miri ini yang bertempat tinggal di seberang sungai Oyo dan harus berjalan sejauh 5 km setiap hari untuk sampai di sekolah. Ia rela berjalan sejauh 5 km setiap harinya untuk pergi ke sekolah karena SD Kedung Miri adalah sekolah terakhir di desa ini dan di desa selanjutnya sudah tidak ada sekolah lagi. Artinya, anak itu sudah mempunyai semangat yang besar untuk bisa menuntut ilmu.

Inilah secuil gambaran pendidikan yang ada di negeri kita. Nyatanya, masih ada paradigma bahwa pendidikan adalah nomer dua, walaupun segala fasilitas untuk sekolah telah memadai, walaupun semangat sudah membara. Sayang kalau hal ini terlewatkan. Ibu Sunarsih merupakan satu dari ribuan pahlawan pendidikan yang terus berjuang dengan caranya yang sederhana. Beliau sangat peduli terhadap nasib pendidikan anak bangsa ini. Tak peduli walau hanya dia sendiri yang berjuang. Entah seberapa jauh tempat yang ingin dia tuju.

Hal yang terpenting adalah jika peduli bergeraklah, melakukan aksi yang nyata untuk memperoleh hasil yang nyata. ( AIK )

You may also like...