Surakarta Keraton Yang Tak Putus Dirundung Konflik

Koranyogya.com—Fakta yang menarik, bahwa konflik internal Keraton Kasunanan Surakarta berimbas hingga ke kepentingan publik, yakni museum Kasunanan sebagai layanan budaya, Selasa lusa (4/4), ditutup oleh pihak Keraton sehingga para pengunjung dan wisatawan merasa kecelik.

keraton

Konflik di Keraton Kasunanan pecah sebegitu Paku Buwana XII, selaku raja Surakarta,  wafat tanpa menunjuk penggantinya pada tahun 2004. Situasi yang tidak menguntungkan siapa pun menjadi semakin riuh ketika kedua anaknya, Hangabehi dan Tedjowulan, merasa sah  sebagai pewaris takhta dan berhak menyandang gelar  Paku Buwana XIII.

Akibatnya, keluarga dan kerabat keraton terbelah jadi dua kubu. Hangabehi bertakhta di dalam keraton, sedangkan Tedjowulan memilih bertakhta di daerah Badran, Kotabarat. Adanya raja kembar ini membuat masyarakat bingung. Bahkan pemerintahan SBY ketika itu, menjadi prihatin, dan bersiap menjembatani kedua pihak yang berkonflik. Namun hingga pemerintahan berganti dengan naiknya Joko Widodo sebagai presiden, konflik itu tak kunjung mereda

Ketika ada usaha dari pihak yang berkonflik untuk mengalah, yakni Tedjowulan melepas gelar rajanya dan mengakui Hangabehi sebagai Paku Buwana XIII, tetapi usaha ini justru mendatangjan ketidakpuasan pendukung Hangabehi menolak rekonsiliasi itu. Beberapa tahun belakangan, kelompok yang menamakan diri sebagai Dewan adat itu justru sering berkonflik dengan Hangabehi maupun Tedjowulan.

Mencermati kasus konflik internal yang melebar ke semua pihak, agaknya penyelesaian pertikaian tidak lagi bisa datang dari luar, seperti yang sudah dilakukan oleh pemerintah selama ini. Penyelesaian ada pada pihak-pihak yang bertikai, bahwa situasi seperti ini hanya akan membuat keraton bukan saja terlantar, tetapi rakyat pun akan enggan mendekat ke keraton.

Dan tentu saja, dunia pariwisata Solo akan menjadi redup, lantara keraton Surakarta adalah destinasi yang paling diminati untuk dikunjungi.

 

You may also like...