Thibaut Courtois dan Dejan Lovren Masih Sakit Hati Disingkirkan Les Bleus

Thibaut Courtois. AFP

Koranyogya.com—Meski sudah meminta maaf, Thibaut Courtois si kiper Belgia itu, setelah kekalahan di semi finaldari Prancis, dengan mentweet sengit,”Jika Prancis menang melawan kami, kami yang lebih tahu bermain bola, kami timnas yang jauh lebih baik dari pemenang ini. Tidak ada permainan bola yang hanya bergerombol di depan gawang sendiri!”, katanya ketika itu. Tetapi. lekas dia meminta maaf atas tuduhan pahitnya itu, tetapi di saat dunia menselebrasi kemenangan Prancis, kiper timnas Belgia itu merilis kembali kebenciannya atas timnas Prancis.

“Saya menyaksikan pertandingan final, tetapi saya mematikan TV di menit ke-94: Saya tidak ingin melihat Prancis merayakan kemenangannya,” kata mantan penjaga gawang Atlético de Madrid, kepada RTBF, yang telah mengeluarkan beberapa kritik terhadap pertandingan Prancis setelah semifinal, sebelum meminta maaf. Namun pemain Belgia itu masih boleh berbangga karena dianugerahi penghargaan sebagai penjaga gawang terbaik Piala Dunia.

Courtois belum bisa sembuh dari sakit hatinya setelah di semifinal Piala Dunia disingkirkn oleh Prancis (1-0). Meski kemudian dia dan timnasnua berhasil nangkring di peringkat 3, setelah mengalahkan Inggris, kiper Chelsea ini bersumpah untuk tidak menyaksikan les Bleus mengangkat trofi juara dunia.

“Ketika teman-teman saya mengatakan saya jadi kiper terbaik Piala Dunia,  saya menyalakan TV dan kembali untuk menonton lagi,” kata Thibaut Courtois. Ini adalah kehormatan yang luar biasa, saya senang telah membuat banyak untuk membantu tim. Tapi itu bukan yang terpenting, saya ingin pergi sejauh mungkin.” Sial baginya, dan untuk semua orang Belgia, Prancis justru yang merebut semua impian timnas-timnas dunia.

Dejan Lovren. AFP

Courtois mestinya mendapatkan teman, karena Dejan Lovren sama mengumbar kepahitannya. Bek Kroasia kehilangan final besar kedua pada hari Minggu dalam waktu dua bulan: setelah Liga Champions (kekalahan dengan Liverpool melawan Real Madrid), mantan pemain Lyon kalah dari Prancis di final Piala 2018. Dan baginya, gelar kedua The Blues sama sekali tidak pantas.

“Saya kecewa karena kami kalah dalam pertandingan tetapi kami memainkan sepakbola yang jauh lebih baik daripada mereka,” katanya, sambil menunjukkan amarahnya. “Mereka memiliki taktik mereka dan kami harus menghormati mereka. Mereka menunggu keberuntungan dan mencetak gol. Mereka memainkan semua permainan mereka seperti itu. Kedengarannya sangat Belgia, semua itu.

You may also like...