Tiga Calon Rektor UGM Yang Lolos Pilrek Belum Angkat Isu Anti-korupsi

Koranyogya.com—Rabu 5 april. Pemilihan rektor UGM kali ini menarik dan dibicarakan banyak media. Dari 8 calon yang lolos seleksi administrasi, akhirnya Senat Akademik UGM meloloskan 3 calon yang dipandang representatif: Ali Agus, Erwan Agus Purwanto, dan Panut Mulyono.

Foto Koran Yogya.

Sejumlah isu lokal dan nasional belum muncul dalam presentasi 3 balon rektor UGM yang lolos (KY)

Yang menarik,ketiganya adalah dekan aktif di tiga fakultas UGM. Ali Agus adalah dekan Fakultas Peternakan, Erwan Agus Purwanto adalah dekan aktif Fakultas Isipol, dan Panut Mulyono adalah dekan Fakultas Teknik. Ketiga nama ini akan digodok dan dipilih di tingkat Majelis Wali Amanat (MWA). Dan tentu saja, kemenangan akan bergantung kepada siapa suara pemerintah, melalui Menristik Dikti, dihadiahkan. Sementara itu kemenangan 3 nama ini di tingkat Senat Akademik karena lima keriteria mereka unggul, yakni: kemampuan kepemimpinan, integeritas, penguasaan nilai-nilai ke UGMan,  dan program perkembangan.

Petahana rontok

Sebanyak 114 anggota Senat Akademik memberikan penilaian. Hasilnya, Panut Mulyono mendapat nilai 47.521, Ali Agus mendapat  47.451 dan Erwan Agus Purwanto mendapat 46.851. Selanjutnya, Paripurna dengan nilai 46.019, lalu rektor saat ini Dwikorita mendapat nilai 45.651. Di urutan ke-6 terdapat Nizam 45.146, lalu Titi Savitri Prihatiningsih dengan nilai 43.046 dan di posisi terakhir Mudrajat Kuncoro dengan nilai 43.021.

Gagalnya Dwikorita meraih nilai tinggi, menyebabkan dirinya tidak dapat melanjutkan kompetisinya di tingkat MWA. Meski menurut sejumlah pengamat Dwikorita sebagai petahana lumayan kuat meraih kemenangan, akan tetapi sejumlah masalah internal di tahun 2016 membuatnya kurang populer di kalangan mahasiswa dan karyawan. Masalah internal itu antara lain: penyesuaian UKT (uang kuliah tunggal) yang belum tuntas dan tukin (tunjangan kinerja) karyawan dan remunerasi dosen yang masih buntu.

Tidak ada anti-korupsi dalam kampanye balon rektor

Yang menjadi catatan lain di kalangan pengamat adalah: balon rektor tidak mengajukan formula pemberantasan korupsi. UGM memang bebas korupsi selama ini, taruh kata begitu. Tetapi, di institusi di luar dirinya, korupsi meraja lela. Sebagai universitas rakyat UGM sepantasnya memimpin pemberantasan korupsi melalui formula-formula sosial politiknya. Dan UGM, seperti yang disinggung oleh PUKAT UGM, adalah kerugian besar buat rakyat karena UGM terkesan tidak peduli pada penyakit bangsa.

Juga masalah internal lainnya, selama beberapa tahun belakangan UGM mengalami kemunduran pemeringkatan nasional dan internasional. Di tingkat nasional, UGM cukup puas di bawah ITB, itu pun karena Dikti memandang UGM memiliki kualitas kegiatan mahasiswa yang tinggi. Sedangkan di tingkat internasional, UGM berada jauh di bawah ITB dan UI. Menurut institusi-institusi pemeringkatan internasional, universitas yang tercecer dari peringkat internasional kurang peduli pada lulusannya, pada perkembangan masyarakatnya, dan perkembangan model pendidikan tinggi di era digital abad ke-21.

Ada kekhawatiran di kalangan sivitas akademika, saat dihubungi PewartaYogya, bahwa pergantian rektor UGM hanyalah sekedar rutinitas, bukan suatu perjuangan mengerek kualitas dalam hal apa pun. Utamanya kualitas pembelajaran, layanan akademik, pengembangan kegiatab mahasiswa yang berkualitas internasional, dan kekayaan intelektual para dosennya dengan tulisan, penelitian, dan pengabdian masyarakatnya yang akan menjadi sumbangsih bagi dunia internasional.

Babak akhir pemilihan rektor UGM ini adalah pemberian suara di tingkat MWA. Akan ada 19 Anggota MWA, kecuali Rektor yang saat ini menjabat,  akan menggunakan hak suaranya. Dalam pemilihan Rektor UGM, Menristekdikti memiliki hak suara 35 persen. Pemilihan rektor rencananya akan disiarkan secara langsung melalu video streaming pada 17-22 April 2017.

Agni Zulkarnaen

You may also like...