Hebat! Generasi Muda Yogyakarta Masih “Gandrung” Kesenian Tradisional

KORAN YOGYA—Gencarnya pembangunan pusat perbelanjaan modern di Yogyakarta tak menyurutkan entusiasme untuk menyelenggarakan pertunjukan kebudayaan tradisional seperti wayang kulit, wayang orang, jathilan, dan lain sebagainya. Seperti yang terlihat di panggung terbuka Taman Budaya Yogyakarta pada Minggu, 25 Oktober 2015, sebuah acara bertajuk #GelarSeniTradisi diselenggarakan secara gratis, mempertontonkan enam bentuk seni dari Indonesia, seperti tari, kethoprak, wayang, dan juga kesenian dari Aceh.

"Stage-action" gaya kesenian tradisional yang dipujikan seniman Barat (foto: Ardelia/koranyogya.com)

“Stage-action” gaya kesenian tradisional yang dipujikan seniman Barat (foto: Ardelia/koranyogya.com)

Acara yang dimulai sejak pukul 10.00 ini diselenggarakan setiap minggu terakhir dalam setiap bulan. Panitia penyelenggara terlihat tak muluk dalam mempersiapkan kedatangan para penonton. Hanya sekitar 50 kursi yang disediakan di bawah tenda yang berada tepat di depan panggung sederhana yang fungsional tersebut. Tapi tampaknya, minat warga dalam menonton pertunjukan seni daerah tersebut jauh melebihi ekspektasi dari 50 kursi yang disediakan.

Hal tersebut tampak pada acara kedua #GelarSeniTradisi tersebut, yaitu Kesenian dari Kota Yogyakarta. Pembawa acara berpenampilan eksentrik baru saja membuka acara, pemain musik dan penyanyi yang terlihat mencolok karena make up tebal dan lucu baru naik ke panggung dan mempersiapkan diri, namun hampir seluruh kursi di tenda sudah terisi penuh oleh pengunjung.

Panas matahari yang menyengat tak menyurutkan penonton untuk menikmati pertunjukan dari Kendali Roso, sebuah sanggar kesenian dari Ngampilan, Yogyakarta. Lakon yang dipertunjukkan siang itu adalah lakon impen yang berlatar belakang jaman kerajaan. Lakon tersebut cukup membuat emosi penonton naik turun, awal pertunjukan itu terkesan serius, namun di tengah-tengah, tawa penonton terdengar ramai, apalagi ketika tiga orang pemain turun panggung dan membagikan bakpia untuk para penonton.

Mengikat penonton dengan promosi kue khas lokal, itu keunggulan kesenian tradisional memainkan brand event-nya (foto: Ardelia/koranyogya.com)

Mengikat penonton dengan promosi kue khas lokal, itu keunggulan kesenian tradisional memainkan brand event-nya (foto: Ardelia/koranyogya.com)

Jumlah penonton yang banyak, terlihat ketika jumlah bakpia yang dibagikan tersebut menipis dengan cepat. Tidak sedikit penonton rela berdiri di pinggir tenda dan bertahan hingga acara tersebut selesai.

Cukup mengagetkan ketika melihat begitu banyak warga yang menonton pertunjukkan seni tradisional tersebut. Bahkan banyak anak-anak yang fokus memperhatikan pertunjukkan hingga selesai bahkan ikut bersorak ketika para pelakon sedang berinteraksi dengan penonton. (Ardelia Karisa)

You may also like...