Pemberontakan Kasih Sayang Shodanco Supriyadi “Pemberontak” PETA Blitar

Catatan Moerjio Wulantoro*

Catatan ini sungguh mati tidak ada hubungannya dengan hari kasih sayang Valentin.  Sungguh mati pula, catatan ini dari awal hingga akhir sengaja tidak mau ikut-ikutan merapatkan diri dalam barisan Apple, Google, Facebook, dan konglomerasi lainnya yang bertekad melawan fake news atau hoax. Catatan ini, memang sedikit setuju dengan Tim Cook, ingin menandaskan bahwa hoax bukan saja merusak otak manusia, tetapi hoax yang difasilitasi medsos, bukan saja mengajari orang berbohong, tetapi menciptakan kreator-kreator bohong. Di dunia ini tidak ada yang benar, kecuali diri sendiri.  Asal tahu saja, hoax bukan barang baru, sejarah rezim politik bangsa mana pun menjadi digdaya lantaran hoax.

Foto Koran Yogya.

 

Catatan ini tidak membandingkan Saint-Valentin dengan perjuangan Supriyadi. Selain dua-duanya beda dalam segala hal—Saint-Valentin hidup di abad ke-3 (meninggal tahun 270 dalam penjara seumur hidup Claudius II), Supriyadi yang berkali-kali dinyatakan tewas oleh pelbagai kepentingan politik di abad ke-20—Saint-Valentin membela umat nasrani untuk hak menikah secara kristiani, Supriyadi memberontaki penjajah Jepang karena dirinya terhina ketika rakyat Indonesia dihinakan Jepang laiknya bukan manusia. Maka kalau terdapat kebetulan antarkeduanya, itu semata karena keduanya diperingati pada tanggal yang sama: 14 Februari.

“Lebih baik kita mati terhormat melawan tentara Jepang yang sudah jelas bertindak sewenang-wenang terhadap bangsa Indonesia. Lebih baik kita melakukan pemberontakan melawan Jepang sekarang juga. Dengan terjadinya pemberontakan ini besar kemungkinan kemerdeka-an Indonesia akan lebih cepat datangnya. ” (Supriyadi dalam rapat rahasia di kamar Halir)

Akoe boekan koeli kontrak

Sejumlah jenderal TNI (dalam beberapa buku mereka) memvonis begitu saja: Supriyadi sudah mati (dihukum mati Jepang atau mati terbunuh). Jenderal flamboyan dan legendaris A.H Nasution bahkan sepakat menyebut begitu. Jenderal-jenderal yang lain, yang notabene tidak mengenal atau tidak dekat dengan Supriyadi, juga menyimpulkan begitu. Dan ihwal itu dilayangkabarkan pada pascakemerdekaan dan bahkan dekade 50an. Tetapi, Soekarno yang mengenal dekat Supriyadi, berpandangan lain. Konon keduanya adalah ‘saudara seperguruan’ murid Mbah Kasan Bendo (d/h Pangeran Yudanegara, pengikut Pangeran Diponegoro yang menyingkir ke Jawa Timur setelah Diponegoro diperdaya Belanda, dan menetap di desa Bendo Blitar), dalam kawruh kebatinan, konon.

Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945 terbentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dengan Maklumat Pemerintah Tanggal 6 Oktober 1945, Supriyadi, pemimpin perlawanan Peta di Blitar (Febuari 1945), diangkat sebagai Menteri Keamanan Rakyat Panglima Perang. (bdk. Sejarah TNI oleh A.H Nasution)

Catatan ‘tidak bertuan’ menyebutkan, ketika Maklumat Pemerintah itu terbit, Supriyadi mendatangi Soekarno dan berujar,”Mas Koes (Soekarno kerap dipanggil Koesno), “akoe boekan koeli kontrak”, setelah bekerja mendapat upah. Aku berjuang demi rakyat Indonesia, berjuang bukan untuk mencari pujian atau hadiah.” Berjuang, maunya Supriyadi dalam setiap rapat rahasia dengan kelompok pemberontak PETAnya, adalah kontrak mati. Setelah pemberontakan selesai semua nama harus dikubur. Yang tewas mengukir nama di batu nisan. Yang hidup, bergantilah nama. Atau kembali ke nama sebelumnya. Sejak bertekad memberontak demi kemerdekaan rakyatnya, Supriyadi sudah siap mati. Saksi-saksi mengatakan setiap kali rapat rahasia Supriyadi selalu mengenakan sarung, membawa pistol dan keris Kyai Sengkelat pemberian kakeknya.

Foto Koran Yogya.

Sebelum bergabung dengan PETA, saat masih menempuh Europeesche Lagere School (ELS) dan MULO, konon dia salah satu dari 10 murid istimewa perguruan pencak silat Setia Hati (SH) pimpinan Raden Ngabehi Soerodiwirjo, jenius kanuragan yang berhasil meramu 36 aliran pencaksilat se-Indonesia dan melanglang hingga Vietnam-Tiongkok. Sebagai murid SH Surpiyadi memiliki nama Bambang Priyambodo. Dia bisa diterima di perguruan rahasia dan tertutup ini, lantaran dia anak Patih. Pendekar Soerodiwirjo memang ‘ditugasi’ untuk mendidik kebolehan lahir batin pemuda-pemuda Indonesia yang bukan rakyat biasa. Semua muridnya anak petinggi masyarakat, paling rendah anak mantri polisi. (Kekecualian, Soerodiwirjo mengangkat Hardjo Oetomo dari kalangan biasa). Cita-citanya: para pemuda murid Soerodiwirjo suatu hari bolehlah jadi pemimpin melawan penjajah Belanda.

Ajaran kasih sayang memang mulai melekat pada Supriyadi, bukan saja ketika menjadi murid SH. Saat ibunya meninggal, dan ayahnya menikah lagi, dia memilih hidup dengan kakeknya. Sang Kakek menggemblengnya siang malam secara lahir batin. Kerapkali, untuk merasakan penderitaan rakyat kecil, Supriyadi diperintahkan tidur di depan halaman rumah, berselimutkan bintang-bintang di langit,  hanya beralaskan tikar pandan.

Akoe tidak maoe didominionkan

Yang mungkin lolos dari catatan latar belakang pemberontakan PETA Blitar adalah ‘provokasi Sekutu’. Konon, rencana pemberontakan di bawah pimpinan Supriyadi tercium oleh Sekutu. Jangan lupa, Sekutu lumayan sakit hati lantaran Belanda, antek mereka, bisa terusir dari Indonesia. Konon pula, Supriyadi yang lagi membara amarahnya kepada Jepang, berhasil ‘dipengaruhi’ oleh Sekutu (Inggris, dalam hal ini):”Kalau you bisa berontaki itu Jepang di hari yang kita sepakati, kapal-kapal perang Inggris di laut Jawa akan bantu you pake meriam-meriam kapal tembaki itu markas Jepang. Negara Indonesia merdeka, dan you bisa jadi pemimpin,”kira-kira seperti itu dialog yang bisa dibayangkan.

Sejarah kelak mencatat, pemberontakan Supriyadi di Blitar gagal secara militer, tetapi secara ideologis pemberontakan Supriyadi membangkitkan nyali para pemuda di seluruh Indonesia. Jepang, ternyata bisa digebuk. Jepang, ternyata bisa putus nyali menghadapi kenekadan dan keberanian Supriyadi dan kawan-kawan. Tetapi, catatan paling dalam justru diperoleh Supriyadi: Sekutu sudah memperalatnya sebagai boneka murahan. Dia marah besar karena lupa filosofi yang diajarkan kakeknya: dalam perang percayakan nasibmu kepada doamu. Supriyadi lengah karena kemudaannya. Dia hanya inginkan rakyat Indonesa merdeka dan bebas dari penistaan bangsa katai.

Karena ‘malu’, Supriyadi meninggalkan Blitar, setelah pasukannya dikalahkan. Ada yang mengatakan dia lari ke hutan Gunung Kelud. Karena itu Jepang menyiduk Mbah Kasan Bendo untuk memanggil murid-muridnya turun dan menyerah. Dalam catatan yang pula tak bertuan, Supriyadi memperingatkan kepada Muradi, Ismangiil, dan lainnya:”Jangan percaya, Mbah Bendo hanya alat. Jepang sampai kapan pun tidak pernah menjaga janjinya! Aku tidak mau didominionkan lagi! “Setelah itu, Supriyadi bersembunyi di gunung Wilis.

Mengapa Gunung Wilis? Tidak banyak kawannya mengerti bahwa Supriyadi sangat akrab dengan Gunung Wilis. Di sana, konon, Supriyadi kerap menyepi. Ketika dia bertengkar atau berbeda pendapat dengan ayahnya yang sudah menjadi Bupati Blitar, dia menghindarkan diri ke Wilis. Satu rahasia lain, setelah pemberontakannya gagal, ayahnya marah besar karena mendatangkan kesulitan baginya. Supriyadi membutuhkan penyejuk hati, dan itu bisa dia dapatkan dari pengasuhnya sejak kecil, Mbah Ngliman sebutannya kelak karena tinggal di desa Ngliman di kaki Wilis.

Memo Suharto: Simpulkan Supriyadi sudah mati

Tahun 1992, di meja pemred harian pagi Jawa Pos tergeletak surat dan fotokopi dokumen asli Super Semar. Isi surat itu: Supriyadi asli meninggal di Yogyakarta. Kantor Biro Jawa Pos Yogyakarta diperintahkan mencari kebenaran itu. Setelah menghubungi Keraton, akhirnya diketahui rumah Supriyadi  yang meninggal itu sudah berganti nama menjadi RM Ir Pramuji Eko Jati. Sebagian besar media Indonesia heboh. Yayasan Peta (Yapeta), demi pengungkapan misteri tokoh sejarah itu, menyelenggarakan sarasehan sehari dan memanggil Nakajima dari Jepang, instruktur Peta di Bogor yang sangat menyayangi Supriyadi karena keistimewaannya. Dalam kesaksiannya, Nakajima berkata:

Saya tidak pernah menemukan data atau dokumen Jepang yang menyebutkan Supriyadi ditangkap atau dihukum mati Nipon. Setelah pemberontakan Blitar, beberapa bulan menjelang Kemerdekaan Indonesia, saya mendengar suara pengamen menyanyi Bengawan Solo, di dekat tangsi Jepang di Salatiga. Saya kenal itu suara Supriyadi. Saya panggil dia. Saya peluk. Saya tanya ke mana saja dia setelah berontak dan mau ke mana dia? Dia jawab mau ke Jakarta ketemu Sukarno dan selama ini dia menyepi di hutan. Saya kasih dia pistol dan uang, untuk bekal dan keamanannya.”

Menurut kepala Biro Jawa Pos Yogyakarta, sarasasehan Yapeta itu, setelah sejumlah kesaksian dan terutama kesaksian Nakajima, bahwa orang yang meninggal yang bernama Raden Mas Ir. Pramuji Eka Jati adalah Supriyadi yang asli, akan menyimpulkan demikian.  Akan tetapi, sebelum keputusan itu ditempuh Yapeta, Sekpri Presiden Suharto, Jendral Banjaran Sari (?), membawa memo Suharto, isinya: Simpulkan Supriyadi sudah mati.  Maksudnya bukan orang yang selama beberapa puluh tahun tinggal di Yogyakarta dan baru saja meninggal itu.

Catur Pangawulo

Tidak menjadi soal siapa Supriyadi yang asli, karena begitu banyak orang mengaku Supriyadi. Dan Supriyadi versi Yogyakarta ini cukup besar bakti negaranya, setelah tidak menyandang nama Supriyadi. Di UGM dia pernah menjadi dosen di Fakultas Teknik. Di Yogyakarta dia ‘mendirikan’ sejumlah perguruan silat kondang yang masih berjaya hingga saat ini. Di lingkungan tertutup dia memiliki sejumlah besar murid silat yang dibagi dalam kelompok kanoman  dan kasepuhan  yang tersebar di seluruh tanah air. Di kalangan kasepuhan dia memiliki murid-murid ‘kebatinan’ dari pelbagai golongan dan lapis sosial. Dan sebagai filosof Jawa dia punya ajaran yang hanya dikenal di kalangan tertentu. Filosofinya itu bertumpu pada satu sendi kearifan humaniora : mangawulo (mengabdi).  Dalam sarasehan terbatas, konon, ajaran  mangawulo  ditarfsirkan menjadi mangawulo dateng Gusti Allah, mengawulo dateng negara, mengawulo dateng tiyang sepuh, mengawulo dateng keluarga. Murid-murid kasepuhannya kelak menyebut ajarannya dengan nama Catur pangawulo.

*Pencatat sejarah bisu tinggal di Jakarta

You may also like...